EFEKTIVITAS PERAWATAN LUKA TEKNIK MODERN DRESSING MENGGUNAKAN HYDROCOLLOID TERHADAP KECEPATAN GRANULASI PADA PASIEN ULKUS DIABETIKUM
Abstract
Latar Belakang: Ulkus diabetikum merupakan salah satu komplikasi kronis Diabetes Melitus yang memerlukan penanganan luka yang tepat untuk mencegah risiko amputasi. Perawatan luka konvensional sering kali membutuhkan waktu penyembuhan yang lama karena kondisi lingkungan luka yang kering. Teknik modern dressing dengan balutan hydrocolloid menawarkan prinsip moist wound healing yang dinilai efektif dalam mempercepat fase penyembuhan, khususnya pembentukan jaringan granulasi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas perawatan luka teknik modern dressing menggunakan hydrocolloid terhadap kecepatan granulasi pada pasien ulkus diabetikum. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain quasi-experiment menggunakan pendekatan pre-test and post-test control group design. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 30 pasien ulkus diabetikum yang dibagi secara seimbang ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok intervensi (modern dressing hydrocolloid, ) dan kelompok kontrol (perawatan konvensional, ) dengan teknik purposive sampling. Kecepatan granulasi diukur menggunakan lembar observasi persentase pembentukan jaringan granulasi selama 2 minggu evaluasi. Analisis data menggunakan uji statistik Independent T-Test (atau Mann-Whitney jika data tidak berdistribusi normal) dengan tingkat signifikansi . Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata persentase kecepatan granulasi pada kelompok intervensi yang menggunakan hydrocolloid sebesar (kategori cepat), sedangkan pada kelompok kontrol sebesar (kategori lambat). Hasil uji bivariat menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada kecepatan pembentukan jaringan granulasi antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (15). Kesimpulan: Perawatan luka teknik modern dressing menggunakan hydrocolloid efektif dalam meningkatkan kecepatan pembentukan jaringan granulasi pada pasien ulkus diabetikum dibandingkan dengan perawatan konvensional. Intervensi ini direkomendasikan sebagai standar perawatan luka modern di fasilitas pelayanan kesehatan.