Journal Nusantara Public Health https://jnph.org/index.php/JAN <p>Journal Nusantara Public Health (JNPH) is the official peer-reviewed research journal of the Journal Nusantara Public Health. JNPH is devoted to the dissemination of groundbreaking research on the theories, practices, and education of adult nursing and midwifery. Research on other subject areas or issues that contribute to adult nursing and midwifery are published at the discretion of the Editorial Board. The goal of JNPH is to contribute health maintenance, health promotion, disease prevention, and recovery from diseases in adults by publishing research. JNPH is published four times per year in February, May, August, and November. </p> en-US Tue, 31 Mar 2026 00:00:00 +0000 OJS 3.3.0.10 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 PENYULUHAN PIJAT BAYI UNTUK MENINGKATKAN NAFSU MAKAN https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/126 <p class="p1">Masa bayi merupakan periode emas pertumbuhan dan perkembangan yang sangat krusial.</p> <p class="p1">Pada fase ini, pemenuhan nutrisi yang adekuat menjadi fondasi utama bagi kesehatan anak</p> <p class="p1">di masa depan. Namun, salah satu tantangan yang paling sering dikeluhkan oleh para orang</p> <p class="p1">tua, terutama ibu, adalah masalah nafsu makan yang rendah atau <em>picky eating</em> pada bayinya.</p> <p class="p1">Penurunan nafsu makan yang berkelanjutan dapat berdampak buruk, mulai dari hambatan</p> <p class="p1">pertumbuhan fisik, penurunan daya tahan tubuh, hingga risiko <em>stunting</em>. Banyak orang tua</p> <p class="p1">sering kali merasa panik saat bayi menunjukkan penurunan nafsu makan. Rasa panik</p> <p class="p1">tersebut kerap berujung pada pemberian suplemen penambah nafsu makan secara terus-</p> <p class="p1">menerus atau memaksa anak untuk makan, yang justru dapat menciptakan trauma makan</p> <p class="p1">dan memperburuk kondisi psikologis bayi. Padahal, nafsu makan bayi sangat dipengaruhi</p> <p class="p1">oleh kenyamanan fisik dan kondisi emosionalnya.</p> Hasrida, Imroatul Azizah, Ita Herawati Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Health https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/126 Wed, 01 Apr 2026 00:00:00 +0000 PENERAPAN PELAYANAN HOMECARE DALAM DETEKSI DINI TANDA BAHAYA MASA NIFAS BERBASIS KELUARGA https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/150 <div> <p><span lang="EN-US">Masa nifas (<em>puerperium</em>) merupakan fase kritis yang dimulai setelah lahirnya plasenta hingga kembalinya organ-organ reproduksi wanita ke kondisi seperti sebelum hamil, yang umumnya berlangsung selama 6 minggu atau 42 hari. Periode ini melibatkan proses pemulihan fisik yang kompleks sekaligus adaptasi psikologis yang besar bagi seorang ibu. Meskipun masa nifas merupakan proses yang fisiologis, fase ini justru menempati urutan tertinggi dalam menyumbang Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia jika dibandingkan dengan masa kehamilan dan persalinan. Berbagai komplikasi pasca-salin seperti perdarahan postpartum sekunder, infeksi masa nifas (<em>sepsis puerperalis</em>), preeklampsia postpartum, hingga gangguan kesehatan mental (<em>postpartum psychosis</em>) dapat muncul secara progresif dan mengancam jiwa ibu dalam hitungan jam.</span></p> </div> <div> <p><span lang="EN-US">Tantangan terbesar dalam menurunkan AKI pada fase nifas adalah fenomena "keterlambatan" di tingkat keluarga, yang dikenal dengan istilah Tiga Terlambat (<em>Three Delays</em>). Keterlambatan pertama, yaitu<span class="apple-converted-space">&nbsp;</span><strong>terlambat mengenali tanda bahaya dan mengambil keputusan</strong>, menjadi hulu utama dari fatalitas komplikasi nifas. Banyak kasus kematian terjadi karena ibu dan keluarga tidak menyadari bahwa gejala harian yang dialami—seperti darah nifas yang berbau busuk, demam tinggi, sakit kepala hebat, atau bengkak pada wajah dan ekstremitas—merupakan sinyal bahaya klinis yang membutuhkan penanganan medis segera. Ketidaktahuan ini sering kali membuat keluarga menganggap remeh gejala tersebut atau justru mengaitkannya dengan mitos-mitos tradisional, sehingga penanganan medis baru dicari ketika kondisi ibu sudah memasuki fase syok atau kritis.</span></p> </div> Lili Farlikhatun, Sukmawati Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Health https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/150 Wed, 01 Apr 2026 00:00:00 +0000 OPTIMALISASI KESEHATAN IBU HAMIL DENGAN PENINGKATAN PENGETAHUAN TENTANG MENGATASI ANEMIA DALAM KEHAMILAN DAN PEMBERIAN TABLET PENAMBAH DARAH DI POSYANDU SEROJA II DESA SUMURKONDANG KEC. KLARI JANUARI 2026 https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/101 <p style="font-weight: 400;"><strong>Pendahuluan: </strong>Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu target global Sustainable Development Goals (SDGs) dalam menurunkan angka kematian ibu (AKI) menjadi 70 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2030, (WHO. 2020). Menurut data dari Riskesdas pada tahun 2020, prevalensi kejadian anemia pada ibu hamil di Indonesia yaitu sebesar 48,9% yang terdiri dari ibu hamil usia 15-24 sebesar 84,6%, ibu hamil usia 23-34 sebesar 33,7%, ibu hamil usia 35-44 sebesar 33,6% dan terakhir yaitu pada 45-54 sebesar 24%. Adapun angka kejadian anemia pada ibu hamil di kabupaten Karawang adalah sebesar 38% (Dinkes Kabupaten Karawang, 2024). Berdasarkan data kependudukan tahun 2024, Data Desa Sumurkondang&nbsp; mempunyai penduduk sebanyak 6172 jiwa, Jumlah KK : 1877 KK. Studi pendahuluan diPosyandu Seroja II terdapat 44 orang ibu hamil dengan 40 orang mengalami anemia dan 3 orang tidak mengalami anemia.<strong>Metode: </strong>Kegiatan yang dilakukan berupa penyuluhan dalam bentuk penyampaian materi dan pemberian tablet penambaha darah <strong>Hasil: </strong>Berdasarkan kegiatan terdapat hasil yang signifikan pada pengetahuan ibu hamil sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan. <strong>Kesimpulan:</strong> Terdapat peningkatan pengetahuan sasaran tentang mengatasi anemia dalam kehamilan oleh ibu hamil di posyandu durian 5.</p> Bunga Romadhon Haque, Lili Anggraini, Dyah Mayasari, Wiwin Widyastuti, Abella Mayunita, Melisa Putri Rahmadhena Copyright (c) https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/101 Thu, 23 Apr 2026 00:00:00 +0000 Edukasi Penyuluhan Bahaya Anemia Dan Pencegahannya Dalam Kehamilan https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/138 <p style="font-weight: 400;">Anemia dalam kehamilan merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi dan dapat berdampak negatif terhadap kesehatan ibu maupun janin. Anemia pada ibu hamil umumnya disebabkan oleh kekurangan zat besi, asam folat, atau nutrisi penting lainnya yang dibutuhkan selama masa kehamilan. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi, seperti persalinan prematur, berat badan lahir rendah, perdarahan saat persalinan, infeksi, hingga peningkatan risiko kematian ibu dan bayi.</p> <p style="font-weight: 400;">Penyuluhan mengenai bahaya anemia dan pencegahannya dalam kehamilan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan perilaku ibu hamil dalam menjaga status gizi selama kehamilan. Materi yang diberikan meliputi pengertian anemia, penyebab dan faktor risiko, tanda dan gejala anemia, dampak anemia terhadap ibu dan janin, serta upaya pencegahan melalui konsumsi makanan bergizi seimbang, kepatuhan mengonsumsi tablet tambah darah (TTD), dan pemeriksaan kehamilan secara rutin.</p> Lia Idealistiana, Novita Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Health https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/138 Wed, 01 Apr 2026 00:00:00 +0000 PROGRAM "IBU TENANG, BAYI SENANG": PENDAMPINGAN PSIKOLOGIS KELUARGA UNTUK MENCEGAH BABY BLUES DAN DEPRESI POSTPARTUM PADA IBU PRIMIPARA. https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/171 <p style="font-weight: 400;">Transisi menjadi ibu bagi seorang wanita primipara sering kali memicu tekanan emosional yang berdampak pada kesehatan mental, seperti timbulnya&nbsp;<em>baby blues</em>&nbsp;hingga depresi postpartum. Kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk&nbsp;<strong>Program "Ibu Tenang, Bayi Senang"</strong>&nbsp;ini bertujuan untuk mencegah gangguan psikologis masa nifas pada ibu primipara melalui intervensi pendampingan psikologis berbasis keluarga di kelurahan Jatibening. Metode pelaksanaan kegiatan mengombinasikan pendekatan edukatif dan pelatihan praktis yang melibatkan ibu hamil trimester III/ibu primipara bersama pendamping utama (suami atau anggota keluarga dekat). Tahapan kegiatan meliputi:</p> <ol style="font-weight: 400;"> <li><em>Pre-test</em>&nbsp;dan skrining awal risiko kecemasan menggunakan instrumen&nbsp;<em>Edinburgh Postnatal Depression Scale</em>(EPDS);</li> <li>Edukasi kebidanan mengenai perubahan hormonal, tanda-tanda&nbsp;<em>baby blues</em>, dan manajemen stres nifas;</li> <li>Pelatihan relaksasi serta pembagian peran (<em>support system</em>) domestik dan pengasuhan dalam keluarga;</li> <li><em>Post-test</em>&nbsp;dan pendampingan pascapersalinan secara berkala.</li> </ol> <p style="font-weight: 400;">Hasil kegiatan menunjukkan adanya penurunan tingkat kecemasan dan peningkatan pemahaman keluarga mengenai pentingnya dukungan mental bagi ibu primipara sebesar [Persentase Peningkatan, misal: 45%]. Selain itu, terjadi pembagian peran yang lebih seimbang di dalam rumah tangga untuk mendukung masa pemulihan ibu. Melalui program ini, peran aktif keluarga terbukti efektif menjadi sistem pendukung (<em>support system</em>) utama dalam mencegah&nbsp;<em>baby blues</em>dan depresi postpartum, sehingga tercipta pengasuhan yang optimal bagi bayi.</p> Eka Azwinda Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Health https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/171 Tue, 21 Apr 2026 00:00:00 +0000 Edukasi Nutrisi dan Diet Rendah Garam sebagai Upaya Preventif Preeklampsia pada Ibu Hamil Risiko Tinggi di Bekasi Tahun 2026 https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/115 <p class="p1">Preeklampsia merupakan penyebab kematian ibu nomor dua di Indonesia,</p> <p class="p1">menyumbang sekitar 27,1% dari total angka kematian ibu (AKI). Di Bekasi,</p> <p class="p1">profil risiko preeklampsia menunjukkan keterkaitan yang kuat dengan faktor</p> <p class="p1">usia dan paritas, di mana ibu dengan usia ekstrem memiliki risiko hingga 44 kali</p> <p class="p1">lebih tinggi untuk mengalami preeklampsia berat. Laporan pengabdian</p> <p class="p1">masyarakat ini merinci program intervensi edukasi nutrisi yang difokuskan pada</p> <p class="p1">diet rendah garam dan suplementasi kalsium sebagai langkah preventif primer.</p> <p class="p1"><strong>Metode</strong></p> <p class="p1">Program pengabdian kepada masyarakat ini Metode yang digunakan meliputi</p> <p class="p1">skrining risiko melalui Mean Arterial Pressure (MAP), Roll Over Test (ROT),</p> <p class="p1">serta penyuluhan terstruktur menggunakan media booklet dan kuesioner pre-test</p> <p class="p1">dan post-test.</p> <p class="p1"><strong>Hasil</strong></p> <p class="p1">Kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pada pengetahuan ibu hamil</p> <p class="p1">mengenai pembatasan natrium (ambang batas 1.500 mg/hari) dan pentingnya</p> <p class="p1">kalsium (1,5 - 2,0 g/hari) untuk mencegah vasokonstriktor vaskular. Integrasi</p> <p class="p1">data lokal Bekasi mengonfirmasi bahwa pola makan masyarakat urban-suburban</p> <p class="p1">yang tinggi natrium menjadi pemicu utama hipertensi gestasional.</p> <p class="p1"><strong>Kesimpulan</strong></p> <p class="p1">Program ini berhasil meningkatkan literasi kesehatan peserta, yang pada</p> <p class="p1">gilirannya diharapkan dapat menurunkan prevalensi komplikasi kehamilan di</p> <p class="p1">wilayah Bekasi secara berkelanjutan.</p> Wiwin Widyastuti, Abela Mayunita, Melisa Putri Rahmadhena, Bunga Romadhona Haque, Lili Anggraini, Dyah Mayasari Fatwa Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Health https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/115 Thu, 05 Mar 2026 00:00:00 +0000 Pemberdayaan Ibu Hamil melalui "Prenatal Gentle Yoga": Upaya Mempersiapkan Persalinan Aman, Nyaman, dan Minim Trauma. https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/145 <p style="font-weight: 400;">Kehamilan merupakan fase fisiologis yang sangat krusial dalam siklus kehidupan seorang wanita. Namun, proses ini membawa perubahan signifikan baik dari aspek biologis, hormonal, maupun psikologis. Memasuki trimester ketiga, sebagian besar ibu hamil mengalami berbagai ketidaknyamanan fisik seperti nyeri punggung bawah (lower back pain), pegal pada panggul, sesak napas, hingga gangguan tidur (insomnia).</p> <p style="font-weight: 400;">&nbsp;</p> <p style="font-weight: 400;">Selain keluhan fisik, kecemasan menghadapi proses persalinan (tokophobia) menjadi masalah psikologis yang sangat umum terjadi. Rasa takut akan rasa sakit saat bersalin, kecemasan terhadap keselamatan janin, serta ketidaksiapan mental dalam menghadapi proses persalinan berisiko meningkatkan stres pada ibu hamil. Stres yang tidak terkelola dengan baik dapat merangsang pelepasan hormon kortisol dan katekolamin, yang secara fisiologis dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah (vasokonstriksi), menghambat aliran darah ke plasenta, memperlama durasi persalinan, hingga meningkatkan risiko komplikasi persalinan.</p> Sukmawati, Nur Anita Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Health https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/145 Wed, 01 Apr 2026 00:00:00 +0000 SOSIALISASI PENCEGAHAN STUNTING MELALUI OPTIMALISASI PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DAN MPASI DI POSYANDU KOTA ALAM, KECAMATAN KOTABUMI SELATAN, KABUPATEN LAMPUNG UTARA https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/134 <p style="font-weight: 400;">Stunting merupakan salah satu permasalahan gizi kronis pada balita yang masih menjadi prioritas penanganan kesehatan masyarakat di Indonesia, termasuk di wilayah Kota Alam, Kecamatan Kotabumi Selatan, Kabupaten Lampung Utara. Salah satu faktor penyebab utama stunting adalah tidak optimalnya pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif pada enam bulan pertama kehidupan serta pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang tidak tepat, baik dari segi waktu pemberian, tekstur, frekuensi, maupun kandungan gizi. Rendahnya pengetahuan ibu mengenai pentingnya ASI eksklusif dan cara penyiapan MPASI yang bergizi seimbang menjadi salah satu penyebab masih tingginya angka gangguan pertumbuhan pada balita di wilayah tersebut. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran ibu mengenai pentingnya pemberian ASI eksklusif dan MPASI yang tepat sebagai upaya pencegahan stunting di Kota Alam. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi dan penyuluhan mengenai ASI eksklusif dan MPASI, demonstrasi pembuatan MPASI bergizi seimbang, serta pendampingan dan konsultasi gizi bagi ibu yang memiliki bayi dan balita. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test pengetahuan ibu sebelum dan sesudah kegiatan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan ibu mengenai ASI eksklusif dan MPASI setelah mengikuti sosialisasi. Kegiatan ini diharapkan dapat berkontribusi terhadap peningkatan praktik pemberian ASI eksklusif dan MPASI yang tepat guna mendukung upaya pencegahan stunting secara berkelanjutan di Kota Alam.</p> Titin Eka Sugiantini, Feva Tridiyawati, Nanik Yuliwati, Resi Galaupa Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Health https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/134 Tue, 21 Apr 2026 00:00:00 +0000 PROGRAM "CATIN SEHAT, BEBAS STUNTING": SKRINING ANEMIA DAN EDUKASI GIZI PREKONSEPSI BERBASIS KELUARGA https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/169 <p style="font-weight: 400;">Stunting merupakan masalah kesehatan global yang dapat dicegah sejak masa pra-konsepsi. Calon pengantin (catin) wanita yang mengalami anemia berisiko tinggi melahirkan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan stunting. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, serta status gizi catin melalui skrining anemia dan edukasi gizi prekonsepsi berbasis keluarga. Metode pelaksanaan dilakukan secara komprehensif melalui tiga tahapan: (1) Tahap Persiapan, meliputi koordinasi lintas sektor (KUA, Puskesmas, dan Posyandu) serta penyusunan media edukasi; (2) Tahap Pelaksanaan, mencakup pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) secara&nbsp;<em>point-of-care testing</em>, konseling gizi prekonsepsi, serta pendampingan keluarga; dan (3) Tahap Evaluasi, dilakukan melalui pengukuran&nbsp;<em>pre-test</em>&nbsp;dan&nbsp;<em>post-test</em>&nbsp;pengetahuan gizi serta pemantauan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD). Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pada rerata skor pengetahuan catin dan keluarga terkait gizi prekonsepsi dan pencegahan stunting. Selain itu, ditemukannya kasus anemia pada catin dapat ditindaklanjuti secara dini melalui rujukan dan intervensi suplemen gizi. Pendekatan berbasis keluarga terbukti efektif meningkatkan kepatuhan catin dalam menjaga kesehatan reproduksi serta memperkuat dukungan sosial dari calon suami dan orang tua. Program ini direkomendasikan sebagai model pendampingan terpadu pra-nikah untuk mempercepat penurunan angka stunting nasional dari hulu.</p> Bayu Laksamana Jati Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Health https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/169 Tue, 21 Apr 2026 00:00:00 +0000 Pendidikan Kesehatan Tentang Pencegahan Kekerasan Seksual Pada Remaja Di SMA Negeri 21 Kayu Putih https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/113 <p style="font-weight: 400;">Anemia&nbsp; merupakan&nbsp; suatu&nbsp; keadaan&nbsp; dimana&nbsp; komponen&nbsp; di&nbsp; dalam&nbsp; darah&nbsp; yaitu hemoglobin&nbsp; dalam&nbsp; darah&nbsp; jumlahnya&nbsp; kurang&nbsp; dari&nbsp; kadar normal. Remaja&nbsp; putri memiliki&nbsp; risiko&nbsp; sepuluh&nbsp; kali&nbsp; lebih besar&nbsp; untuk&nbsp; menderita&nbsp; anemia&nbsp;dibandingkan dengan remaja putra.&nbsp; Hal ini dikarenakan remaja putri mengalami menstruasi setiap&nbsp; bulannya&nbsp; dan&nbsp; sedang&nbsp; dalam&nbsp; masa&nbsp; pertumbuhan&nbsp; sehingga membutuhkan asupan zat besi yang lebih banyak. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan&nbsp; untukmeningkatkan pengetahuan&nbsp; remaja&nbsp; tentang Anemia&nbsp; dalam&nbsp; upaya pencegahan Stunting di&nbsp; SMAN 100 Jakarta Timur. Kegiatan pengabdian&nbsp; kepada masyarakat&nbsp; ini&nbsp; dilakukan&nbsp; melalui&nbsp; beberapa&nbsp;tahapan&nbsp; yaitu dimulai&nbsp; dengan tahap&nbsp; persiapan,&nbsp; pembagian&nbsp; tugas&nbsp; untuk&nbsp; tim&nbsp; pengabmas, pemberian&nbsp; edukasi, tahap&nbsp; pelaksanaan&nbsp; dilakukan&nbsp; dengan pemberian edukasi menggunakan dengan metode ceramah dan dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab serta, tahap evaluasi dilakukan dengan menggunakan ceklist pre-test dan post test terhadap&nbsp; peningkatan&nbsp; pengetahuan&nbsp; terkait anemia dalam upaya pencegahan stunting.&nbsp; Hasil pre-test pengetahuan 27% dan post-test 67%. Kesimpulan adanya peningkatan pengetahuan remaja terhadap pencegahan stunting.&nbsp;&nbsp; Diharapkan&nbsp;&nbsp; adanya&nbsp;&nbsp; Kerjasama lebih&nbsp;&nbsp; lanjut&nbsp;&nbsp; antara&nbsp;&nbsp; sekolah&nbsp;&nbsp; dan puskesmas setempat dalam hal pemeriksaan hemoglobin berkala dan pemberian tablet tambah darah sebagai tindakan pencegahan anemia dalam upaya pencegahan stunting.</p> Lili Anggraini, Dyah Mayasari Fatwa, Wiwin Widyastuti, Sukmawati, Lili Farlikhatun, Bunga Romadhona Haque, Melisa Putri Rahmadhena, Abela Mayunita Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Health https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/113 Thu, 05 Mar 2026 00:00:00 +0000 Pemberdayaan "Keluarga Tanggap Bencana": Pelatihan Evakuasi Mandiri dan Manajemen Triage Sederhana Saat Terjadi Bencana [Gempa Bumi/Banjir] https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/143 <p style="font-weight: 400;">Indonesia secara geografis terletak di wilayah Ring of Fire (Cincin Api Pasifik) dan berada di pertemuan tiga lempeng tektonik aktif dunia, yang menjadikannya salah satu negara dengan tingkat kerentanan bencana alam tertinggi di dunia. Ancaman bencana hidrometeorologi dan geologi, seperti gempa bumi dan banjir, dapat terjadi secara mendadak tanpa peringatan awal yang cukup. Ketika bencana melanda, menit-menit pertama pascabencana—yang sering disebut sebagai golden period atau periode emas—merupakan fase kritis yang paling menentukan keselamatan jiwa manusia. Dalam rentang waktu singkat ini, keberadaan tim penyelamat profesional (first responders) sering kali belum dapat menjangkau lokasi terdampak secara langsung akibat kerusakan infrastruktur, terputusnya akses transportasi, maupun gangguan jaringan komunikasi.</p> <p style="font-weight: 400;">&nbsp;</p> <p style="font-weight: 400;">Kondisi tersebut menempatkan korban bencana dan anggota keluarganya sebagai penolong pertama (immediate responders) di lapangan. Data keberhasilan evakuasi pada berbagai kejadian bencana besar menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup korban terbesar justru ditentukan oleh kesiapsiagaan dan tindakan cepat diri sendiri serta orang-orang terdekat di lingkungan unit terkecil, yaitu keluarga. Namun demikian, kenyataan di masyarakat menunjukkan bahwa tingkat kesiapsiagaan bencana berbasis keluarga masih tergolong rendah. Ketidaktahuan mengenai cara merespons ancaman secara cepat, kepanikan, serta minimnya keterampilan evakuasi mandiri sering kali menjadi pemicu utama timbulnya korban jiwa dan cedera fisik yang bertambah parah saat bencana terjadi.</p> Nurni Nurmaliyati, Amalia Indah Permatasari Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Health https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/143 Wed, 01 Apr 2026 00:00:00 +0000 PEMBERDAYAAN KADER POSYANDU DALAM DETEKSI DINI TUMBUH KEMBANG BAYI DAN BALITA DI POSYANDU DESA MEKARWANGI https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/131 <p style="font-weight: 400;">Stunting dan gangguan tumbuh kembang pada bayi dan balita masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, termasuk di Desa Mekarwangi. Salah satu faktor penyebabnya adalah rendahnya kemampuan kader posyandu dalam melakukan deteksi dini terhadap gangguan tumbuh kembang balita, baik dari aspek pengukuran antropometri maupun interpretasi hasil pemantauan menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS) dan buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader posyandu dalam mendeteksi dini tumbuh kembang bayi dan balita di Posyandu Desa Mekarwangi. Metode pelaksanaan meliputi penyuluhan, pelatihan teknik pengukuran antropometri (berat badan, panjang/tinggi badan, dan lingkar kepala), simulasi pengisian KMS, serta pendampingan langsung pada kegiatan posyandu. Kegiatan diikuti oleh sejumlah kader posyandu aktif di wilayah tersebut. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader posyandu dalam melakukan deteksi dini tumbuh kembang balita setelah mengikuti pelatihan. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan mutu layanan posyandu dan berkontribusi terhadap upaya pencegahan stunting serta gangguan tumbuh kembang pada bayi dan balita di Desa Mekarwangi secara berkelanjutan.</p> Resi Galaupa, Feva Tridiyawati, Titin Eka Sugiantini, Nanik Yuliwati Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Health https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/131 Tue, 21 Apr 2026 00:00:00 +0000 PEMANFAATAN RAMUAN HERBAL TRADISIONAL YANG AMAN UNTUK MASA NIFAS https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/162 <p style="font-weight: 400;">Masa nifas (<em>postpartum</em>) merupakan periode krusial bagi seorang ibu setelah melahirkan. Selama rentang waktu enam minggu setelah persalinan, tubuh ibu mengalami proses pemulihan fisik dan psikologis yang signifikan, mulai dari involusi rahim, penyembuhan luka jalan lahir, hingga proses adaptasi dalam menyusui. Di Indonesia, praktik perawatan masa nifas sering kali berkaitan erat dengan kearifan lokal, salah satunya adalah penggunaan ramuan herbal tradisional yang diwariskan secara turun-temurun untuk mempercepat pemulihan kesehatan ibu.</p> <p style="font-weight: 400;">Namun, di era modern ini, penggunaan ramuan herbal sering kali dilakukan tanpa dasar pengetahuan yang memadai mengenai aspek keamanan (<em>safety</em>), dosis, maupun interaksi zat aktif dalam bahan alami tersebut. Banyak ibu nifas yang mengonsumsi ramuan herbal tanpa memperhatikan sterilitas bahan, cara pengolahan yang tepat, atau efek samping yang mungkin timbul, baik bagi ibu maupun kualitas ASI bagi bayinya. Ketidaktahuan ini meningkatkan risiko terjadinya keracunan, alergi, atau terganggunya proses pemulihan jika herbal yang dikonsumsi tidak sesuai dengan kondisi kesehatan ibu.</p> Jamilah Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Health https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/162 Tue, 21 Apr 2026 00:00:00 +0000 EDUKASI DAN PEMBERDAYAAN KELUARGA DALAM PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KURANG ENERGI KRONIK (KEK) PADA IBU HAMIL DIPOSYANDU MELATI DESA PANGKAT KECAMATAN PANGKAT KAB. TANGERANG BANTEN https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/111 <p class="p1"><span class="s1"><strong>Pendahuluan: </strong></span>Secara global, berdasarkan data UNICEF dan WHO angka prevalensi stunting Indonesia menempati urutan</p> <p class="p1">tertinggi ke-27 dari 154 negara yang memiliki data stunting. Angka stunting di Indonesia pada tahun 2024 tercatat sebesar 21,5 persen, hanya turun 0,1 persen dari tahun sebelumnya yang sebesar 21,6 persen. Kurangnya asupan gizi pada ibu sejak sebelum hamil, selama kehamilan, dan pada 1.000 hari pertama kehidupan anak dapat menghambat pertumbuhan <span class="s1"><strong>Metode: </strong></span>Pendekatan partisipatif, artinya mitra binaan akan secara aktif dilibatkan dalam setiap tahapan dan kegiatan pembinaan yang dilakukan melalui pendidikan kesehatan tentang stunting, edukasi perilaku hidup bersih dan sehat, pemberian MPASI kaya protein,</p> <p class="p1">dilanjutkan dengan pemberian makanan tambahan pada balita yang mengalami stunting. <span class="s1"><strong>Hasil: </strong></span>Dari 70 balita yang datang hanya sebagian (50.0%) ibu yang mengetahui tentang stunting dan pencegahannya. Setelah diberikan penyuluhan dan media edukasi berupa leaflet pengetahuan ibu balita tentang stunting dan pencegahannya meningkat. <span class="s1"><strong>Kesimpulan:</strong>. </span>Keluarga Balita Stunting mendapatkan edukasi tentang intervensi spesifik dengan pemeberian makanan tambahan, pemantauan tumbuh kembang, dukungan pemberian MPASI dan keluarga sudah mengerti juga mau melaksanakan anjuran yang diberikan.</p> Abela Mayunita, Melisa Putri Rahmadhena, Bunga Romadhona, Lili Anggraini, Dyah Mayasari Fatwa, Sukmawati, Sukarni Setya Yuningsih Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Health https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/111 Thu, 05 Mar 2026 00:00:00 +0000 Permberdayaan Keluarga Sadar Gizi Melalui Edukasi Parenting Dan Pemantauan Tumbuh Kembang Anak bersama Bidan https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/141 <p style="font-weight: 400;">Masalah gizi pada anak, terutama stunting (tengkes) dan gizi kurang, masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian serius di Indonesia. Periode emas tumbuh kembang anak, yaitu pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), merupakan masa kritis di mana pemenuhan gizi seimbang dan pola pengasuhan yang tepat sangat menentukan kualitas kesehatan anak di masa depan. Kerusakan atau keterlambatan pertumbuhan yang terjadi pada fase ini bersifat permanen dan berdampak langsung pada tingkat kecerdasan serta produktivitas anak saat dewasa. Tingginya angka masalah gizi kerap kali bukan hanya disebabkan oleh faktor ekonomi atau keterbatasan akses pangan semata, tetapi juga berkaitan erat dengan rendahnya kesadaran, pengetahuan, serta keterampilan orang tua—khususnya ibu—dalam menerapkan pola pengasuhan gizi yang benar. Banyak orang tua belum memahami pentingnya pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang kaya protein hewani, prinsip gizi seimbang, serta bagaimana cara membaca grafik pertumbuhan anak secara berkala di Posyandu.</p> Tetin Rismayanti, Sukarni Setya Yuningsih Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Health https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/141 Wed, 01 Apr 2026 00:00:00 +0000 POSYANDU KELUARGA PLUS: PEMBENTUKAN KADER BINAAN KEBIDANAN DALAM PEMANTAUAN KESEHATAN IBU DAN ANAK BERBASIS RUMAH TANGGA https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/174 <p style="font-weight: 400;">Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) merupakan fondasi utama dalam menciptakan generasi yang berkualitas dan bebas stunting. Namun, keterbatasan jangkauan pemantauan kesehatan rutin oleh tenaga medis di tingkat rumah tangga masih menjadi hambatan dalam deteksi dini risiko kehamilan dan masalah tumbuh kembang anak. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk mengoptimalkan peran kader kesehatan melalui pembentukan dan pembinaan program&nbsp;<strong>"Posyandu Keluarga Plus"</strong>, sebuah inovasi pelayanan kesehatan komunitas yang berfokus pada pendampingan dan pemantauan kesehatan ibu dan anak berbasis rumah tangga (<em>home-based monitoring</em>). Metode pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat yang komprehensif, meliputi empat tahapan utama: (1) pemetaan kebutuhan dan&nbsp;<em>pre-test</em>&nbsp;pengetahuan serta keterampilan kader, (2) Pelatihan Keterampilan Dasar dan Kebidanan Komunitas bagi kader binaan, mencakup teknik pemeriksaan fisik sederhana (pengukuran lingkar lengan atas/LILA, tekanan darah, dan penimbangan), deteksi tanda bahaya kehamilan, serta pemantauan tumbuh kembang balita, (3) pendampingan kunjungan rumah (<em>home visit</em>) bersama tim kebidanan, dan (4) evaluasi&nbsp;<em>post-test</em>&nbsp;serta pencatatan cakupan pemantauan KIA. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kapasitas kader secara signifikan, di mana rerata skor pengetahuan dan keterampilan kader meningkat dari kategori kurang/cukup pada saat&nbsp;<em>pre-test</em>&nbsp;menjadi kategori baik pada saat&nbsp;<em>post-test</em>. Selain itu, program Posyandu Keluarga Plus ini berhasil memperluas jangkauan deteksi dini risiko tinggi pada ibu hamil dan balita yang sebelumnya tidak terjangkau oleh pelayanan Posyandu konvensional. Melalui pembentukan kader binaan kebidanan ini, terwujud sistem pemantauan KIA mandiri berbasis rumah tangga yang berkelanjutan guna mendukung penurunan angka kematian ibu, bayi, dan prevalensi stunting di masyarakat.</p> Bambang Sugiantono Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Health https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/174 Tue, 21 Apr 2026 00:00:00 +0000 EDUKASI TENTANG PELATIHAN PENANGANAN KORBAN DEHIDRASI https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/127 <p>Pelatihan penanganan korban dehidrasi Adalah suatu program yang di rancang untuk memberikan pengetahuan dan keetrampilan kepada peserta dalam menangani korban dehidrasi. Dengan demikian, pelatihan penanganan korban dehidrasi dapat membantu meningkatkan kemampuan dan kesadaran peserta dalam menangani korban dehidrasi, sehingga dapat mengurangi Risiko komplikasi dan keamtian akibat dehidrasi. Kegiatan penagbdian kepada masyarkat di RSUD Kota Bekasi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman Masyarakat mengenai betapa pentingnya penanganan korban dehidrasi. Hasil dari pengabdian penyuluhan tentang penanganan korban dehidrasi guna meningkatkan kesadaran Masyarakat akan pentingnya penanganan korban dehidrasi</p> Tatag Mulyanto, Desridius Chalid, Elfira Sri Futriani Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Health https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/127 Wed, 01 Apr 2026 00:00:00 +0000 PENYULUHAN KEHAMILAN AMAN UNTUK REMAJA DAN IBU MUDA https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/157 <div> <p><strong>Latar Belakang:</strong><span class="apple-converted-space">&nbsp;</span>Kehamilan pada usia remaja dan ibu muda memiliki risiko tinggi terhadap kesehatan fisik maupun psikologis, baik bagi ibu maupun janin. Kurangnya pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi, tanda bahaya kehamilan, serta pentingnya perawatan antenatal menjadi faktor utama tingginya angka komplikasi kehamilan pada kelompok usia muda. Oleh karena itu, edukasi dan penyuluhan mengenai kehamilan aman sangat krusial untuk diberikan secara berkesinambungan. <strong>Tujuan:</strong><span class="apple-converted-space">&nbsp;</span>Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan pemahaman remaja serta ibu muda mengenai konsep kehamilan aman, pencegahan komplikasi, dan pola hidup sehat selama kehamilan. <strong>Metode:</strong><span class="apple-converted-space">&nbsp;</span>Kegiatan PkM ini dilaksanakan di<span class="apple-converted-space">&nbsp;P</span><span class="apple-converted-space">uskesmas </span><strong>Jatibening</strong><span class="apple-converted-space">&nbsp;</span>dengan melibatkan<span class="apple-converted-space">&nbsp;</span><strong data-path-to-node="6" data-index-in-node="113">35</strong><span class="apple-converted-space">&nbsp;</span>peserta yang terdiri dari remaja putri dan ibu muda. Metode pengabdian yang digunakan adalah penyuluhan interaktif melalui ceramah, diskusi kelompok (<em data-path-to-node="6" data-index-in-node="275">sharing session</em>), pemutaran media edukasi, dan pembagian leaflet. Evaluasi tingkat pengetahuan peserta dilakukan dengan memberikan<span class="apple-converted-space">&nbsp;</span><em data-path-to-node="6" data-index-in-node="406">pre-test</em><span class="apple-converted-space">&nbsp;</span>sebelum penyuluhan dan<span class="apple-converted-space">&nbsp;</span><em data-path-to-node="6" data-index-in-node="438">post-test</em>setelah materi disampaikan. <strong>Hasil:</strong><span class="apple-converted-space">&nbsp;</span>Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta yang signifikan setelah diberikan penyuluhan. Sebelum kegiatan dilaksanakan (<em data-path-to-node="7" data-index-in-node="150">pre-test</em>), rerata skor pengetahuan peserta berada pada kategori<span class="apple-converted-space">&nbsp;</span><strong data-path-to-node="7" data-index-in-node="214">[kurang/sedang]</strong><span class="apple-converted-space">&nbsp;</span>yaitu sebesar<span class="apple-converted-space">&nbsp;1</span><span class="apple-converted-space">1 </span><strong>%</strong>. Setelah dilaksanakan penyuluhan (<em data-path-to-node="7" data-index-in-node="283">post-test</em>), terjadi peningkatan rerata skor pengetahuan menjadi<span class="apple-converted-space">&nbsp;1</span><span class="apple-converted-space">5 </span><strong>%</strong><span class="apple-converted-space">&nbsp;</span>dan masuk dalam kategori<span class="apple-converted-space">&nbsp;</span><strong data-path-to-node="7" data-index-in-node="377">baik</strong>. Selama kegiatan, peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi, terutama pada sesi tanya jawab mengenai gizi kehamilan, kesiapan psikologis, dan pencegahan<span class="apple-converted-space">&nbsp;</span><em data-path-to-node="7" data-index-in-node="538">stunting</em><span class="apple-converted-space">&nbsp;</span>sejak dini. <strong>Kesimpulan:</strong><span class="apple-converted-space">&nbsp;</span>Kegiatan penyuluhan kehamilan aman efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja serta ibu muda. Diharapkan kegiatan edukasi serupa dapat dilakukan secara berkala melalui optimalisasi peran kader kesehatan dan Posyandu Remaja setempat guna menekan angka risiko komplikasi kehamilan usia muda.</p> </div> Olivia Nency Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Health https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/157 Wed, 01 Apr 2026 00:00:00 +0000 EDUKASI ANEMIA PADA REMAJA DALAM UPAYA PENCEGAHAN STUNTING DI SMAN 100 JAKARTA TIMUR https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/102 <p style="font-weight: 400;">darah&nbsp; yaitu hemoglobin&nbsp; dalam&nbsp; darah&nbsp; jumlahnya&nbsp; kurang&nbsp; dari&nbsp; kadar normal. Remaja&nbsp; putri memiliki&nbsp; risiko&nbsp; sepuluh&nbsp; kali&nbsp; lebih besar&nbsp; untuk&nbsp; menderita&nbsp; anemia&nbsp; dibandingkan dengan remaja putra.&nbsp; Hal ini dikarenakan remaja putri mengalami menstruasi setiap&nbsp; bulannya&nbsp; dan&nbsp; sedang&nbsp; dalam&nbsp; masa&nbsp; pertumbuhan&nbsp; sehingga membutuhkan asupan zat besi yang lebih banyak. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan&nbsp; untukmeningkatkan pengetahuan&nbsp; remaja&nbsp; tentang Anemia&nbsp; dalam&nbsp; upaya pencegahan Stunting di&nbsp; SMAN 100 Jakarta Timur. Kegiatan pengabdian&nbsp; kepada masyarakat&nbsp; ini&nbsp; dilakukan&nbsp; melalui&nbsp; beberapa&nbsp; tahapan&nbsp; yaitu dimulai&nbsp; dengan tahap&nbsp; persiapan,&nbsp; pembagian&nbsp; tugas&nbsp; untuk&nbsp; tim&nbsp; pengabmas, pemberian&nbsp; edukasi, tahap&nbsp; pelaksanaan&nbsp; dilakukan&nbsp; dengan pemberian edukasi menggunakan dengan metode ceramah dan dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab serta, tahap evaluasi dilakukan dengan menggunakan ceklist pre-test dan post test terhadap&nbsp; peningkatan&nbsp; pengetahuan&nbsp; terkait anemia dalam upaya pencegahan stunting.&nbsp; Hasil pre-test pengetahuan 27% dan post-test 67%. Kesimpulan adanya peningkatan pengetahuan remaja terhadap pencegahan stunting.&nbsp;&nbsp; Diharapkan&nbsp;&nbsp; adanya&nbsp;&nbsp; Kerjasama lebih&nbsp;&nbsp; lanjut&nbsp;&nbsp; antara&nbsp;&nbsp; sekolah&nbsp;&nbsp; dan puskesmas setempat dalam hal pemeriksaan hemoglobin berkala dan pemberian tablet tambah darah sebagai tindakan pencegahan anemia dalam upaya pencegahan stunting.</p> Lili Anggraini, Dyah Mayasari Fatwa, Wiwin Widyastuti, Abela Mayunita, Melisa Putri Rahmadhena, Bunga Romadhona Haque Copyright (c) https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/102 Thu, 23 Apr 2026 00:00:00 +0000 Pemberdayaan Keluarga Berbasis Homecare Dalam Optimalisasi Gizi Ibu Menyusui Dan Pencegahan Mitos Nifas Yang Merugikan https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/139 <div> <p><span lang="EN-US">Masa nifas (<em>puerperium</em>) merupakan fase pemulihan yang sangat krusial bagi seorang wanita setelah melewati proses persalinan. Pada periode ini, tubuh ibu nifas bekerja ekstra keras untuk mengembalikan fungsi organ reproduksi ke kondisi semula (involusi uteri), menyembuhkan luka jalan lahir (perineum), sekaligus memulai proses laktasi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi baru lahir. Agar seluruh proses biologis tersebut berjalan optimal, ibu menyusui membutuhkan asupan zat gizi yang jauh lebih besar dan berkualitas dibandingkan saat masa kehamilan. Pemenuhan gizi yang seimbang, kaya akan protein, vitamin, dan mineral, menjadi faktor penentu kuantitas serta kualitas Air Susu Ibu (ASI) yang diproduksi demi mendukung pertumbuhan emas bayi dan mencegah terjadinya masalah gagal tumbuh (<em>stunting</em>).Namun pada realitasnya di masyarakat, pemenuhan gizi ibu menyusui sering kali terbentur oleh dinding budaya berupa mitos dan pantangan makan (<em>food taboos</em>) masa nifas yang diwariskan secara turun-temurun. Di berbagai daerah di Indonesia, masih banyak ibu nifas yang dilarang mengonsumsi makanan tinggi protein hewani—seperti ikan, telur, daging, dan ayam—karena adanya mitos keliru bahwa makanan tersebut dapat membuat darah nifas berbau amis, membuat ASI menjadi dingin, atau menyebabkan luka jahitan perineum menjadi gatal dan lama sembuh. Akibatnya, menu makanan ibu nifas sering kali dibatasi hanya pada nasi dan sayur bening tanpa lauk yang adekuat. Secara klinis, budaya pantang makan ini sangat merugikan dan berbahaya; kekurangan asupan protein justru menyebabkan regenerasi sel pada luka perineum terhambat, memicu anemia postpartum, menurunkan volume produksi ASI, serta membuat ibu menjadi lemas dan rentan terhadap infeksi sekunder.</span></p> </div> Tuty Yanuarti, Sukmawati Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Health https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/139 Wed, 01 Apr 2026 00:00:00 +0000 POSYANDU PLUS KELUARGA: PEMBERDAYAAN WANITA USIA SUBUR (WUS) DAN LANSIA MELALUI DETEKSI DINI KANKER SERVIKS (TEST IVA) SERTA SENAM MENOPAUSE BERBASIS KOMUNITAS. https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/172 <p style="font-weight: 400;">Kanker serviks dan masalah kesehatan reproduksi pada masa menopause merupakan dua tantangan kesehatan utama yang dihadapi Wanita Usia Subur (WUS) dan lansia, namun sering kali diabaikan karena keterbatasan akses, rasa takut, serta kurangnya kesadaran masyarakat. Kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk&nbsp;<strong>Posyandu Plus Keluarga</strong>&nbsp;ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan wanita lintas generasi melalui program deteksi dini kanker serviks dengan metode Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) bagi WUS serta pelaksanaan senam menopause berbasis komunitas untuk meningkatkan kualitas hidup wanita lansia. Kegiatan ini dilaksanakan di Kelurahan Jatibening dengan mengintegrasikan pelayanan kesehatan terpadu dan pemberdayaan kader lokal.</p> <p style="font-weight: 400;">Metode pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan preventif-promotif yang terbagi menjadi empat tahap:</p> <ol style="font-weight: 400;"> <li><em>Pre-test</em>&nbsp;dan sosialisasi mengenai pentingnya skrining kanker serviks serta manajemen kesehatan menopause;</li> <li>Pelaksanaan pemeriksaan IVA gratis bagi WUS dan peragaan senam menopause lansia secara berkala;</li> <li>Pelatihan kader posyandu sebagai penggerak sasaran di tingkat RT/RW;</li> <li><em>Post-test</em>, rujukan kasus positif (jika ditemukan), serta evaluasi tingkat kebugaran fisik dan kualitas hidup lansia.</li> </ol> <p style="font-weight: 400;">Hasil kegiatan menunjukkan partisipasi aktif sebanyak 30 orang WUS dalam skrinning IVA dan 30 lansia dalam program senam menopause. Terdapat peningkatan pengetahuan peserta mengenai pencegahan kanker serviks dan kesehatan menopause sebesar [Persentase Peningkkatan48%. Selain itu, senam menopause yang dilakukan secara konsisten terbukti mengurangi keluhan fisik akibat penurunan estrogen pada lansia serta meningkatkan kebugaran tubuh. Melalui integrasi Posyandu Plus Keluarga, terbentuk mekanisme deteksi dini dan pembiasaan gaya hidup sehat mandiri berbasis komunitas yang berkelanjutan.</p> Eka Azwinda Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Health https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/172 Tue, 21 Apr 2026 00:00:00 +0000 PELAYANAN KEBIDANAN KELUARGA DAN PENCEGAHAN STUNTING DI POSYANDU MELATI 5 DESEMBER 2025 https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/116 <p class="p1"><strong>Pendahuluan: </strong>Asuhan kebidanan pemberdayaan pada keluarga</p> <p class="p1">merupakan asuhan kebidanan komunitas yang dilakukan oleh</p> <p class="p1">bidan untuk pemecahan masalah kesehatan. <em>Stunting </em>pada anak</p> <p class="p1">merupakan masalah yang cukup serius karena berkaitan dengan</p> <p class="p1">risiko terjadinya kesakitan di masa yang akan datang serta</p> <p class="p1">sulitnya untuk mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang</p> <p class="p1">optimal. Berdasarkan data survey penduduk kelurahan jaka</p> <p class="p1">mulya kecamatan bekasi selatan berjumlah 35.283 jiwa dimana</p> <p class="p1">kelompok usia 0-4 th berjumlah 2.343.000 jiwa didapatkan %</p> <p class="p1">jiwa, sementara berdasarkan data penimbangan balita di 12</p> <p class="p1">posyandu terdapat 43 balita stunting dimana untuk wilayah</p> <p class="p1">posyandu durian V Terdapat 2 balita yang mengalami stunting</p> <p class="p1">dari jumlah sasaran 94 balita.</p> <p class="p1"><strong>Metode: </strong>Kegiatan yang dilakukan berupa penyuluhan dalam</p> <p class="p1">bentuk penyampaian materi.</p> <p class="p1"><strong>Hasil: </strong>Berdasarkan kegiatan terdapat hasil yang signifikan pada</p> <p class="p1">pengetahuan masyarakat sebelum dan sesudah diberikan</p> <p class="p1">pendidikan kesehatan.</p> <p class="p1"><strong>Kesimpulan:</strong> Terdapat peningkatan pengetahuan sasaran tentang</p> <p class="p1">pencegahan balita stunting pada masyarakat khususnya ibu hamil</p> <p class="p1">dan ibu yang memiliki balita di posyandu durian 5</p> Melisa Putri Rahmadhena, Bunga Romadhona Haque, Lili Anggraini, Wiwin Widyastuti, Dyah Mayasari Fatwa, Abela Mayunita Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Health https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/116 Thu, 05 Mar 2026 00:00:00 +0000 MANAJEMEN HOMECARE KESIAPAN PERSALINAN DAN PENCEGAHAN KOMPLIKASI (P4K) PADA IBU HAMIL RISIKO TINGGI https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/149 <p style="font-weight: 400;">Kehamilan merupakan suatu proses fisiologis yang alamiah, namun dalam perjalanannya memiliki potensi risiko yang dapat mengancam keselamatan ibu maupun janin. Angka Kematian Ibu (AKI) masih menjadi salah satu indikator dan tantangan besar dalam pembangunan kesehatan di Indonesia. Sebagian besar kematian ibu disebabkan oleh komplikasi yang sebenarnya dapat dicegah dan ditangani jika terdeteksi sejak dini, seperti perdarahan hebat, preeklampsia/eklampsia, dan infeksi. Kondisi ini diperberat jika ibu hamil masuk ke dalam kategori risiko tinggi (risti), seperti usia terlalu muda atau terlalu tua, jarak kehamilan terlalu dekat, paritas tinggi, atau memiliki riwayat penyakit penyerta. Ibu hamil dengan risiko tinggi memerlukan pengawasan yang lebih intensif dan perencanaan persalinan yang matang agar tidak jatuh ke dalam kondisi kegawatdaruratan yang fatal. Pemerintah Indonesia telah meluncurkan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) sebagai salah satu strategi operasional untuk menurunkan AKI melalui percepatan deteksi dini risiko serta penyiapan persalinan yang aman. P4K mengamanatkan pemasangan stiker di depan rumah ibu hamil sebagai simbol transparansi status kesehatan dan kesiapsiagaan lingkungan. Secara konseptual, P4K memuat komponen krusial seperti penentuan penolong persalinan, tempat persalinan, penyiapan dana darurat (<em>dasolin</em>), penyediaan sarana transportasi, hingga penunjukan calon pendonor darah yang siap sedia. Jika program ini berjalan dengan optimal, keterlambatan dalam mengenali tanda bahaya dan keterlambatan dalam mencapai fasilitas kesehatan (Terlambat I dan Terlambat II) dapat dipangkas secara drastis.</p> Masluroh, Sukmawati Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Health https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/149 Wed, 01 Apr 2026 00:00:00 +0000 PEMBERDAYAAN KADER POSYANDU DALAM PENDAMPINGAN KELUARGA BERESIKO STUNTING DI WILAYAH DI POSYANDU ASOKA I DUSUN TEGALASEM JUNI TAHUN 2026 https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/100 <p><span class="s1"><strong>Pendahuluan: </strong></span>Secara global, berdasarkan data UNICEF dan WHO angka prevalensi stunting Indonesia menempati urutan</p> <p>tertinggi ke-27 dari 154 negara yang memiliki data stunting. Angka stunting di Indonesia pada tahun 2024 tercatat sebesar 21,5 persen, hanya turun 0,1 persen dari tahun sebelumnya yang sebesar 21,6 persen. Kurangnya asupan gizi pada ibu sejak sebelum hamil,selama kehamilan, dan pada 1.000 hari pertama kehidupan anak dapat menghambat pertumbuhan <span class="s1"><strong>Metode: </strong></span>Pendekatan partisipatif, artinya mitra binaan akan secara aktif dilibatkan dalam setiap tahapan dan kegiatan pembinaan yang dilakukan melalui pendidikan kesehatan tentang stunting, edukasi perilaku hidup bersih dan sehat, pemberian MPASI kaya protein, dilanjutkan dengan pemberian makanan tambahan pada balita yang mengalami stunting. <span class="s1"><strong>Hasil: </strong></span>Dari 70 balita yang datang hanya sebagian (50.0%) ibu yang mengetahui tentang stunting dan pencegahannya. Setelah diberikan penyuluhan dan media edukasi berupa leaflet pengetahuan ibu balita tentang stunting dan pencegahannya meningkat. <span class="s1"><strong>Kesimpulan:</strong>. </span>Keluarga Balita Stunting mendapatkan edukasi tentang intervensi spesifik dengan pemeberian makanan tambahan, pemantauan tumbuh kembang, dukungan pemberian MPASI dan keluarga sudah mengerti juga mau melaksanakan anjuran yang diberikan.</p> Abela Mayunita, Melisa Putri Rahhmadhena, Bunga Romadhona Haque, Lili Anggraiini, Dyah Mayasari Fatwa, Wiwin Widyastuti, Sukmawati Copyright (c) https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/100 Mon, 06 Apr 2026 00:00:00 +0000 Penguatan Kapasitas Komunitas Dalam Evaluasi Medis Dan Triage Lapangan pada Situasi Bencana Lokal https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/137 <div> <p><span lang="EN-US">Indonesia merupakan wilayah yang memiliki kerentanan tinggi terhadap berbagai jenis bencana, baik yang bersifat geologis, hidrometeorologis, maupun bencana akibat aktivitas manusia. Situasi bencana sering kali mengakibatkan<span class="apple-converted-space">&nbsp;</span><em>mass casualty incident</em><span class="apple-converted-space">&nbsp;</span>(insiden korban massal), di mana jumlah korban melampaui kapasitas fasilitas dan tenaga kesehatan yang tersedia di lokasi kejadian. Dalam kondisi tersebut, detik-detik pertama pascabencana menjadi masa paling krusial untuk menentukan kelangsungan hidup korban melalui tindakan penyelamatan yang tepat.</span> <span lang="EN-US">Masyarakat lokal sering kali menjadi responden pertama (<em>first responders</em>) yang menjangkau lokasi bencana sebelum bantuan profesional seperti ambulans atau tim medis tiba. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa kapasitas komunitas dalam melakukan evakuasi medis dan<span class="apple-converted-space">&nbsp;</span><em>triage</em><span class="apple-converted-space">&nbsp;</span>(pemilahan korban berdasarkan tingkat keparahan) masih sangat minim. Sering kali terjadi kesalahan prosedur dalam evakuasi, seperti memindahkan korban cedera tulang belakang tanpa stabilisasi yang benar, yang justru berisiko menambah cedera sekunder (<em>secondary injury</em>) atau memicu kelumpuhan permanen. Selain itu, ketiadaan sistem<span class="apple-converted-space">&nbsp;</span><em>triage</em><span class="apple-converted-space">&nbsp;</span>yang dipahami warga menyebabkan penanganan menjadi tidak efektif, di mana korban dengan cedera ringan justru mendapatkan perhatian lebih awal dibandingkan korban kritis yang nyawanya terancam.</span></p> </div> Kusnanto, Chusnul Chotimah Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Health https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/137 Wed, 01 Apr 2026 00:00:00 +0000 LITERASI KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA BERBASIS KELUARGA: PENGUATAN PERAN ORANG TUA DALAM EDUKASI PUBERTAS DAN PENCEGAHAN PERNIKAHAN DINI. https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/170 <p style="font-weight: 400;">Kurangnya pemahaman mengenai kesehatan reproduksi dan perubahan pubertas pada remaja sering kali dipicu oleh tabunya komunikasi di dalam keluarga, yang berkontribusi pada tingginya angka pernikahan dini dan masalah kesehatan reproduksi. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan literasi kesehatan reproduksi remaja melalui pendekatan berbasis keluarga dengan menguatkan peran orang tua sebagai pendidik utama dalam edukasi pubertas dan pencegahan pernikahan dini. Mitra sasaran kegiatan ini adalah para orang tua yang memiliki anak usia remaja di [Nama Desa/Kelurahan]. Metode pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui tiga tahapan utama: pre-tes untuk mengukur pemahaman awal, edukasi partisipatif menggunakan media&nbsp;<em>booklet</em>&nbsp;interaktif dan diskusi kelompok terarah (FGD), serta pelatihan komunikasi efektif antara orang tua dan remaja. Evaluasi keberhasilan dilakukan melalui post-tes dan observasi perubahan pola komunikasi keluarga. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada pengetahuan orang tua mengenai perubahan fisik dan psikologis masa pubertas, risiko medis serta sosial dari pernikahan dini, dan keterampilannya dalam mengomunikasikan isu reproduksi secara terbuka tanpa rasa canggung. Melalui penguatan peran orang tua ini, terbentuk lingkungan keluarga yang mendukung dan protektif, sehingga remaja dapat melewati masa pubertas dengan sehat dan terhindar dari praktik pernikahan usia anak. Program ini diharapkan dapat direplikasi secara berkelanjutan melalui pembentukan posyandu remaja berbasis keluarga di tingkat desa.</p> Bayu Laksamana Jati Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Health https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/170 Tue, 21 Apr 2026 00:00:00 +0000 EDUKASI DAN PEMBERDAYAAN KELUARGA DALAM PENCEGAHAN DAN PENANGANAN STUNTING PADA ANAK DI RT. 002 RW. 008 DESA MEKAR SARI KEC. SUNGAI RAYA KALIMANTAN BARAT https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/114 <p>Kekurangan Energi Kronis (KEK) adalah kondisi gizi kurang yang dialami ibu hamil akibat kurangnya asupan energi dan protein dalam waktu lama, yang ditandai dengan ukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) &lt; 23,5 cm. KEK pada ibu hamil dapat meningkatkan risiko komplikasi kehamilan, kelahiran bayi berat lahir rendah (BBLR), serta stunting pada anak. Sementara itu, balita dengan status gizi</p> <p class="p1"><em>Stunting/</em>pendek merupakan kondisi kronis yang menggambarkan</p> <p class="p1">terhambatnya pertumbuhan karena malnutrisi dalam jangka waktu</p> <p class="p1">yang lama. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia</p> <p class="p1">Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak, pengertian</p> <p class="p1">pendek dan sangat pendek adalah status gizi yang didasarkan pada</p> <p class="p1">Indeks Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan</p> <p class="p1">menurut Umur (TB/U) yang merupakan istilah <em>stunted </em>(pendek) dan</p> <p class="p1"><em>severely stunted </em>(sangat pendek). Berdasarkan data 2020 balita</p> <p class="p1"><em>stunting</em> di dunia yang tertinggi berasal Asia (53%) kemudian diikuti</p> <p class="p1">oleh Afrika (41%). Proporsi terbanyak berasal dari Asia Selatan yaitu</p> <p class="p1">30,7% kemudian di posisi kedua Asia Tenggara sebesar 27,4%,</p> <p class="p1">sedangkan proporsi paling sedikit di Asia Timur yaitu 4,9%. <em>South-</em></p> <p class="p1"><em>eastern Asia Regional</em> posisi pertama diduduki Timor Leste dengan</p> <p class="p1">prevalensi sebesar 48,8% kemudian di posisi kedua adalah Indonesia</p> <p class="p1">sebesar 31,8%. Kementerian Kesehatan mengumumkan hasil Survei</p> <p class="p1">Status Gizi Indonesia (SSGI) pada Rapat Kerja Nasional BKKBN,</p> <p class="p1">prevalensi <em>stunting</em> di Indonesia turun dari 24,4% di tahun 2021</p> <p class="p1">menjadi 21,6% di 2022. Stunting merupakan masalah gizi kronis yang</p> <p class="p1">terjadi pada anak akibat kekurangan asupan gizi dan faktor kesehatan</p> <p class="p1">selama 1000 hari pertama kehidupan. Berdasarkan data WHO,</p> <p class="p1">stunting meningkatkan risiko kematian anak, gangguan</p> <p class="p1">perkembangan kognitif, serta masalah kesehatan jangka panjang. Di</p> <p class="p1">sisi lain, keluarga berencana (KB) membantu mengatur jarak</p> <p class="p1">kelahiran, sehingga ibu memiliki waktu untuk pulih dan memenuhi</p> <p class="p1">kebutuhan nutrisi anak berikutnya. Imunisasi juga merupakan</p> <p class="p1">intervensi kesehatan penting untuk mencegah penyakit menular yang</p> <p class="p1">dapat memengaruhi pertumbuhan anak.</p> <p class="p1"><strong>Metode</strong> yang digunakan yaitu pendidikan kesehatan penyuluhan,</p> <p class="p1">diskusi dan tanya jawab. Pemeriksaan serta pemberian makanan</p> <p class="p1">tambahan untuk bayi dan anak.</p> <p class="p1"><strong>Hasil</strong> setelah diberikan materi secara intensif, jumlah ibu yang</p> <p class="p1">pengetahuan kurang mengalami peningkatan.</p> <p class="p1"><strong>Kesimpulan</strong> : setelah mendapatkan penyuluhan serta edukasi yang</p> <p class="p1">baik tentang Stunting, pengetahuan ibu meningkat .</p> Dyah Mayasari Fatwa, Wiwin Widyastuti, Abela Mayunita, Melisa Putri Rahmadhena, Bunga Romadhona Haque, Lili Anggraini, Sukmawati Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Health https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/114 Thu, 05 Mar 2026 00:00:00 +0000 Pemberdayaan Keluarga dalam Manajemen Stres dengan Spiritual of Nursing (PEKAN MANIS). https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/144 <p style="font-weight: 400;">Keluarga merupakan unit terkecil sekaligus pondasi utama dalam struktur masyarakat. Namun, dinamika kehidupan modern yang dipenuhi oleh beban ekonomi, tuntutan pekerjaan, masalah pengasuhan anak, hingga ketidakharmonisan komunikasi antaranggota keluarga rentan memicu terjadinya stres psikologis. Stres yang dialami oleh salah satu anggota keluarga—khususnya orang tua—dapat memberikan dampak domino yang memengaruhi kestabilan emosi dan mental seluruh anggota keluarga lainnya.</p> <p style="font-weight: 400;">&nbsp;</p> <p style="font-weight: 400;">Jika tidak dikelola dengan baik, stres kronis dalam keluarga berpotensi memicu timbulnya berbagai gangguan kesehatan fisik (seperti hipertensi dan penyakit psikosomatis), gangguan kesehatan jiwa (seperti depresi dan kecemasan), hingga konflik domestik yang berujung pada keretakan rumah tangga (breakdown keluarga). Oleh karena itu, kemampuan manajemen stres di tingkat keluarga menjadi sebuah kebutuhan yang sangat krusial.</p> Amalia Indah Permatasari, Nurni Nurmaliyati Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Health https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/144 Wed, 01 Apr 2026 00:00:00 +0000 PENDAMPINGAN PSIKOSOSIAL BAGI IBU BERSALIN DALAM MENURUNKAN KECEMASAN MENJELANG PERSALINAN DI POSYANDU DESA MEKARWANGI https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/132 <p style="font-weight: 400;">Kecemasan menjelang persalinan merupakan kondisi psikologis yang umum dialami oleh ibu bersalin, terutama pada ibu primipara, dan apabila tidak ditangani dengan baik dapat berdampak negatif terhadap proses persalinan, seperti perpanjangan kala persalinan, peningkatan persepsi nyeri, hingga risiko komplikasi persalinan. Dukungan psikososial yang memadai selama periode menjelang persalinan terbukti dapat menurunkan tingkat kecemasan serta meningkatkan kesiapan mental ibu dalam menghadapi proses persalinan. Namun demikian, dukungan psikososial bagi ibu bersalin di tingkat masyarakat, khususnya melalui posyandu, masih belum optimal karena keterbatasan pengetahuan dan keterampilan kader dalam memberikan pendampingan tersebut. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan kader posyandu dalam memberikan pendampingan psikososial bagi ibu bersalin guna menurunkan tingkat kecemasan menjelang persalinan di Posyandu Desa Mekarwangi. Metode pelaksanaan meliputi penyuluhan mengenai kecemasan pada ibu bersalin, pelatihan teknik komunikasi suportif dan konseling dasar bagi kader, simulasi pendampingan psikososial, serta pendampingan langsung terhadap ibu hamil trimester III yang akan menghadapi persalinan. Evaluasi dilakukan melalui pengukuran tingkat kecemasan menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah pendampingan, serta penilaian pengetahuan dan keterampilan kader melalui pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan penurunan tingkat kecemasan ibu bersalin setelah mendapatkan pendampingan psikososial, serta peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader posyandu dalam memberikan dukungan tersebut. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas layanan psikososial di posyandu dan berkontribusi terhadap kesiapan mental ibu bersalin secara berkelanjutan.</p> Feva Tridiyawati, Resi Galaupa, Titin Eka Sugiantini, Nanik Yuliwati Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Health https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/132 Tue, 21 Apr 2026 00:00:00 +0000 PENCEGAHAN HIPERTENSI KEHAMILAN MELALUI DETEKSI DINI https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/163 <p style="font-weight: 400;">Hipertensi dalam kehamilan merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas ibu serta janin. Kondisi ini meliputi hipertensi gestasional, preeklampsia, eklampsia, dan hipertensi kronis yang dapat menimbulkan komplikasi serius seperti kejang, perdarahan otak, gagal organ, kelahiran prematur, hingga kematian ibu dan bayi. Oleh karena itu, deteksi dini menjadi langkah penting dalam upaya pencegahan dan penanganan hipertensi selama kehamilan.</p> <p style="font-weight: 400;">Deteksi dini dilakukan melalui pemeriksaan antenatal care (ANC) secara rutin, pengukuran tekanan darah, pemantauan kenaikan berat badan, pemeriksaan protein urin, serta identifikasi faktor risiko seperti riwayat hipertensi, obesitas, usia ibu yang terlalu muda atau terlalu tua, dan riwayat preeklampsia pada kehamilan sebelumnya. Dengan deteksi dini, tenaga kesehatan dapat mengenali tanda-tanda awal hipertensi kehamilan sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat.</p> Mariyani Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Health https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/163 Tue, 21 Apr 2026 00:00:00 +0000 Pencegahan Bullying Dan Penguatan Kesehatan Mental Di Lingkungan SMK Kesehatan Fadh Islamic https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/112 <p style="font-weight: 400;"><strong>Pendahuluan: </strong>Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu target global Sustainable Development Goals (SDGs) dalam menurunkan angka kematian ibu (AKI) menjadi 70 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2030, (WHO. 2020). Menurut data dari Riskesdas pada tahun 2020, prevalensi kejadian anemia pada ibu hamil di Indonesia yaitu sebesar 48,9% yang terdiri dari ibu hamil usia 15-24 sebesar 84,6%, ibu hamil usia 23-34 sebesar 33,7%, ibu hamil usia 35-44 sebesar 33,6% dan terakhir yaitu pada 45-54 sebesar 24%. Adapun angka kejadian anemia pada ibu hamil di kabupaten Karawang adalah sebesar 38% (Dinkes Kabupaten Karawang, 2024). Berdasarkan data kependudukan tahun 2024, Data Desa Sumurkondang&nbsp; mempunyai penduduk sebanyak 6172 jiwa, Jumlah KK : 1877 KK. Studi pendahuluan diPosyandu Seroja II terdapat 44 orang ibu hamil dengan 40 orang mengalami anemia dan 3 orang tidak mengalami anemia. <strong>Metode: </strong>Kegiatan yang dilakukan berupa penyuluhan dalam bentuk penyampaian materi dan pemberian tablet penambaha darah <strong>Hasil: </strong>Berdasarkan kegiatan terdapat hasil yang signifikan pada pengetahuan ibu hamil sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan.</p> Bunga Romadhona Haque, Lili Anggraini, Dyah Mayasari Fatwa, Wiwin Widyastuti, Abela Mayunita, Melisa Putri Rahmadhena Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Health https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/112 Thu, 05 Mar 2026 00:00:00 +0000 Pendampingan Psikologis Berbasis Keluarga: Upaya Pencegahan Baby Blues dan Depresi Pascapersalinan pada Ibu Primipara https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/142 <p>Masa nifas (postpartum) merupakan periode transisi krusial dalam</p> <p>kehidupan seorang wanita yang ditandai dengan perubahan fisiologis,</p> <p>hormonal, dan psikologis yang signifikan. Bagi seorang ibu primipara</p> <p>(wanita yang baru pertama kali melahirkan), pengalaman pertama</p> <p>menghadapi peran pengasuhan sering kali mendatangkan tekanan</p> <p>emosional yang amat kompleks. Perubahan mendadak pada rutinitas</p> <p>harian, kecemasan terhadap kemampuan merawat bayi, penurunan</p> <p>kualitas tidur, serta penurunan tajam kadar hormon estrogen dan</p> <p>progesteron pascapersalinan menjadi pemicu utama kerentanan kesehatan</p> <p>mental ibu.</p> <p>Fenomena gangguan psikologis pascapersalinan umumnya bermula dari</p> <p>postpartum blues atau baby blues, yang ditandai dengan perasaan cemas,</p> <p>mudah menangis, sedih, dan lelah tanpa sebab yang jelas. Angka kejadian</p> <p>baby blues tergolong sangat tinggi, mempengaruhi sekitar 50% hingga</p> <p>80% ibu melahirkan di seluruh dunia. Apabila kondisi baby blues ini tidak</p> <p>ditangani dengan tepat dan dibiarkan berlarut-larut melebihi dua minggu,</p> <p>maka berisiko berkembang menjadi depresi pascapersalinan (postpartum</p> <p>depression / PPD) yang berdampak lebih berat dan persisten. Depresi</p> <p>pascapersalinan tidak hanya mengganggu kesejahteraan psikologis ibu,</p> <p>tetapi juga secara langsung menghambat ikatan emosional (bonding</p> <p>attachment) antara ibu dan bayi, merusak proses pemberian ASI eksklusif,</p> <p>serta dapat mengganggu tumbuh kembang bayi secara jangka panjang.</p> Gusrida Umairo, Ayu Resky Mustafa Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Health https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/142 Wed, 01 Apr 2026 00:00:00 +0000 AKSELERASI PENURUNAN STUNTING MELALUI OPTIMALISASI GUNGSI KELUARGA SEHAT (KJS) DAN PENDAMPINGAN GIZI BALITA OLEH BIDAN https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/175 <p style="font-weight: 400;">Masalah gizi pada anak, terutama kejadian&nbsp;<em>stunting</em>&nbsp;(tengkes) dan gizi kurang, masih menjadi tantangan utama pembangunan kesehatan di Indonesia. Periode emas tumbuh kembang anak pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan fase krusial yang menentukan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Kerusakan kognitif dan hambatan pertumbuhan fisik yang terjadi pada periode ini bersifat permanen dan berdampak langsung pada tingkat produktivitas serta kecerdasan anak saat dewasa.</p> <p style="font-weight: 400;">Tingginya prevalensi masalah gizi sering kali berakar dari ketidakberfungsian sistem pendukung di tingkat mikro, yaitu keluarga. Keluarga memegang peranan sentral sebagai lingkungan pertama dan utama dalam membentuk perilaku kesehatan anak. Melalui pendekatan&nbsp;<strong>Keluarga Sehat (KJS)</strong>, upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat diarahkan agar keluarga mampu mengenali, mencegah, dan mengatasi masalah kesehatan secara mandiri. Optimalisasi fungsi keluarga sehat mencakup perbaikan pola asuh, peningkatan akses terhadap layanan kesehatan dasar, serta pemenuhan gizi seimbang berbasis pangan lokal.</p> Udur Diana Tumanggor Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Health https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/175 Tue, 21 Apr 2026 00:00:00 +0000 PROJEK MK KELUARGA BERENCANA Pemberian Pelayanan KB yang Humanistik dengan Strategi Cafetaria KB di Klinik Harapan Baru Puri Kosambi, Kecamatan Klari ,Kabupaten Karawang. Tahun 2026 https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/130 <p style="font-weight: 400;">Dalam upaya mendukung peningkatan pemahaman dan keterlibatan masyarakat pada program KB, diperlukan strategi komunikasi yang inovatif dan menarik. Salah satu strategi yang dapat dikembangkan adalah <strong>Cafetaria Keluarga Berencana</strong>, yaitu ruang layanan terpaduyang menyajikan informasi, konseling, edukasi, dan simulasi alat kontrasepsi dalam bentuk yang lebih santai, interaktif, dan ramah bagi masyarakat. Program ini diharapkan menjadi pusat edukasi dan pemberdayaan yang dapat meningkatkan kualitas informasi dan pelayanan KB.<strong>Metode </strong>Program pengabdian kepada masyarakat ini menerapkan pendekatan Pemberian Pelayanan KB yang Humanistik dengan Strategi Cafetaria KB di Klinik milik Mahasiswa Kebidanan. Kegiatan meliputi Inovasi Ruangan konseling yang dilengkapi dengan logo Cafetaria KB , sesi Konseling dengan alat bantu berupa Roda klop KB,, Lembar balik ABPK, edukasi kesehatan menggunakan phantom KB, Leafleat, Bannerdan menu Cafetaria KB, dan praktik konseling KB langsung kepada klien KB . Materi edukasi, media visual, serta pendampingan langsung digunakan untuk mendukung proses pembelajaran. Evaluasi dilakukan melalui observasi dan umpan balik peserta guna menilai tingkat pemahaman dan penguasaan keterampilan. Konseling KB <strong>Hasil </strong>Hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini menunjukkan dampak yang positif, dari Bidannya ditandai dengan peningkatan pengetahuan dan keterampilan dan lebih percaya diri dalam melakukan konseling KB , Klien juga merasakan puas dengan pelayan KB yang diberikan dengan menerapkan Inovasi dari Cafetaria yang humanistik .</p> <p style="font-weight: 400;">&nbsp;&nbsp; <strong>Kesimpulan </strong>Pemberian layanan KB yang diberikan dengan inovasi cafetaria KB ter</p> <p style="font-weight: 400;">bukti mampu meningkatkan pemahaman peserta dengan penjelasan tentang KB dengan menggunakan alat peraga phantom mengenai berbagai metode kontrasepsi, termasuk manfaat, efek samping, dan kesesuaian dengan kondisinya. Cafetaria KB yang berbasis masyarakat direkomendasikan untuk memperkuat pelayanan KB kedepannya .dengan pelayanan yang humanistik diharapakan capaian angka akseptor KB meningkat</p> <p style="font-weight: 400;">&nbsp;</p> Rahmadyanti, Lili Farlikhatun Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Health https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/130 Tue, 21 Apr 2026 00:00:00 +0000 EDUKASI LITERASI DIGITAL UNTUK MEMBEDAKAN INFORMASI KESEHATAN YANG VALID https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/160 <p style="font-weight: 400;">Di era disrupsi informasi saat ini, internet telah menjadi sumber rujukan utama masyarakat dalam mencari informasi kesehatan. Kehadiran media sosial, aplikasi pesan singkat, dan mesin pencari memberikan akses yang sangat cepat bagi masyarakat untuk mendapatkan tips kesehatan, resep pengobatan tradisional, hingga opini medis. Namun, kemudahan akses ini berbanding terbalik dengan validitas informasi yang tersedia. Arus informasi yang tidak terverifikasi, maraknya konten hoaks, serta praktik&nbsp;<em>self-diagnosis</em>&nbsp;akibat paparan informasi medis yang salah telah menjadi tantangan serius bagi kesehatan masyarakat.</p> <p style="font-weight: 400;">Banyak masyarakat cenderung menelan mentah-mentah informasi kesehatan yang populer di media sosial tanpa melakukan pengecekan ulang terhadap sumber yang kredibel. Dampak dari konsumsi informasi yang salah ini sangat fatal, mulai dari keterlambatan penanganan medis yang tepat, penggunaan obat atau ramuan yang tidak aman, hingga kepanikan massal akibat pemberitaan hoaks mengenai penyakit menular. Kurangnya kemampuan untuk membedakan antara opini subjektif, pemasaran produk terselubung, dan fakta medis berbasis bukti (<em>evidence-based medicine</em>) menjadi masalah mendasar yang harus segera dibenahi.</p> Marina Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Health https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/160 Wed, 01 Apr 2026 00:00:00 +0000 PENURUNAN KADAR BILIRUBIN BAYI YANG DIBERI PEMIJATAN PADA BAYI ASI DAN TANPA ASI DI WILAYAH BANTEN TAHUN 2024 https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/103 <p style="font-weight: 400;">Hiperbilirubinemia tidak langsung merupakan salah satu kondisi yang paling mempengaruhi kesehatan bayi baru lahir di seluruh dunia dan terjadi pada 60% bayi baru lahir cukup bulan dan 80% bayi baru lahir prematur. Pijat bayi dapat menjadi metode yang efektif penanganan bayi ikterik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penurunan kadar bilirubin pada bayi yang diberi pemijatan dengan ASI dan tanpa ASI. Rancangan yang digunakan adalah <em>pre-test and post-test with control group </em>(<em>quasy experiment with control</em>)<em>. </em>Populasi dalam penelitian ini adalah bayi ikterik yang dirawat di rumah sakit di wilayah Banten pada bulan Juni tahun 2024 sebanyak 50 bayi dengan jumlah sampel 44 bayi. Teknik pengambilan sampel dengan pendekatan <em>purposive sampling. </em>Sebagian besar responden pada kelompok intervensi adalah bayi ikterik dengan jenis kelamin perempuan (54,5%) dan pada kelompok kontrol sebagian besar responden adalah bayi laki-laki (59,1%). Pada kelompok intervensi sebelum intervensi rata-rata kadar bilirubin bayi adalah 16,4 mg/dL dan rata-rata setelah intervensi yaitu 11,9 mg/dL. Pada kelompok kontrol sebelum intervensi rata-rata kadar bilirubin bayi adalah 17,7 mg/dL dan rata-rata setelah intervensi yaitu 10,6 mg/dL. Pada kelompok intervensi sebelum intervensi sebagian besar kadar bilirubin responden dalam katagori patologis (59,1%) dan setelah intervensi ada dalam katagori fisiologis (81,8%). Sedangkan pada kelompok kontrol sebelum intervensi sebagian besar ada dalam katagori patologis yaitu 81,8% setelah intervensi sebagian besar dalam katagori fisiologis yaitu 68.2%. Pada kelompok intervensi rata-rata kadar bilirubin bayi setelah intervensi adalah 4,5 mg/dL dan pada kelompok kontrol rata-rata kadar bilirubin setelah intervensi yaitu 3,9 mg/dL.Terdapat perbedaan signifikan penurunan kadar bilirubin bayi ikterik setelah dipijat dan diberi ASI pada kelompok intervensi (p-Value 0,008). Terdapat perbedaan signifikan penurunan kadar bilirubin pada bayi ikterik yang dipijat tapi tidak diberi ASI pada kelompok kontrol (p-Value 0,000). Tidak ada perbedaan signifikan kadar bilirubin bayi ikterik pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol setelah intervensi (p-Value 0,055). Pijat bayi dan pemberian ASI dapat mengurangi kadar bilirubin pada hiperbilirubinemia neonatal dan dapat direkomendasikan untuk diberikan dalam perawatan dengan hati-hati. Pijat bayi mungkin efektif untuk pencegahan penyakit kuning patologis pada bayi baru lahir yang sehat.</p> Dyah Mayasari Fatwa, Wiwin Widyastuti, Abela Mayunita, Melisa Putri Rahmadhena, Bunga Romadhona Haque, Lili Anggraini Copyright (c) https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/103 Thu, 23 Apr 2026 00:00:00 +0000 Workshop Pencegahan Luka Jalan Lahir Saat Persalinan https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/140 <p style="font-weight: 400;">Luka jalan lahir merupakan salah satu komplikasi yang sering terjadi selama proses persalinan dan dapat menyebabkan perdarahan, nyeri, infeksi, serta gangguan pemulihan pada ibu pascapersalinan. Upaya pencegahan luka jalan lahir sangat penting untuk meningkatkan keselamatan dan kualitas pelayanan kebidanan. Oleh karena itu, dilaksanakan Workshop Pencegahan Luka Jalan Lahir saat Persalinan sebagai sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan, khususnya bidan, dalam menerapkan praktik persalinan yang aman dan sesuai standar.</p> <p style="font-weight: 400;">Kegiatan workshop dilaksanakan melalui metode ceramah, diskusi interaktif, studi kasus, serta demonstrasi teknik pencegahan trauma perineum selama persalinan. Materi yang diberikan meliputi anatomi dan fisiologi jalan lahir, faktor risiko terjadinya ruptur perineum, teknik perlindungan perineum (perineal support), pengaturan posisi persalinan, komunikasi efektif dengan ibu bersalin, serta penatalaksanaan awal apabila terjadi luka jalan lahir.</p> Sukarni Setya Yuningsih, Tetin Rismayanti Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Health https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/140 Wed, 01 Apr 2026 00:00:00 +0000 APLIKASI KEBIDANAN KELUARGA: EDUKASI DIGITAL KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA) UNTUK MENINGKATKAN KEPATUHAN PEMERIKSAAN ANTENATAL https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/173 <p style="font-weight: 400;">Kepatuhan ibu hamil dalam melakukan pemeriksaan kehamilan (<em>Antenatal Care</em>/ANC) secara rutin merupakan kunci utama dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi serta mencegah risiko komplikasi persalinan. Namun, keterbatasan akses informasi yang akurat dan rendahnya keterlibatan keluarga kerap menjadi hambatan dalam pemantauan kesehatan ibu. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, serta kepatuhan pemeriksaan antenatal pada ibu hamil melalui penerapan inovasi&nbsp;<strong>"Aplikasi Kebidanan Keluarga"</strong>, sebuah platform edukasi digital Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) berbasis pendampingan keluarga. Metode pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui pendekatan berbasis komunitas yang meliputi beberapa tahapan: (1) survei awal dan&nbsp;<em>pre-test</em>&nbsp;untuk mengukur tingkat pengetahuan serta kepatuhan pemeriksaan ANC ibu hamil, (2) sosialisasi dan pelatihan penggunaan Aplikasi Kebidanan Keluarga bagi ibu hamil dan anggota keluarga (khususnya suami), (3) pendampingan dan pemantauan penggunaan aplikasi secara berkala, serta (4) evaluasi akhir melalui&nbsp;<em>post-test</em>&nbsp;dan verifikasi buku KIA. Aplikasi ini dilengkapi dengan fitur edukasi interaktif kesehatan KIA, pengingat otomatis jadwal pemeriksaan ANC, serta panduan keterlibatan keluarga dalam menjaga kesehatan ibu hamil. Hasil kegiatan diharapkan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada tingkat pengetahuan ibu dan keluarga mengenai pentingnya ANC, peningkatan partisipasi aktif suami/keluarga dalam pengawasan kehamilan, serta peningkatan persentase kepatuhan ibu hamil dalam memenuhi standar kunjungan ANC (minimal 6 kali selama masa kehamilan). Melalui digitalisasi edukasi KIA berbasis keluarga ini, diharapkan tercipta ekosistem pendukung yang berkelanjutan di tingkat rumah tangga untuk mewujudkan kehamilan yang sehat dan aman.</p> Bambang Sugiantono Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Health https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/173 Tue, 21 Apr 2026 00:00:00 +0000