Journal Nusantara Public Health
https://jnph.org/index.php/JAN
<p>Journal Nusantara Public Health (JNPH) is the official peer-reviewed research journal of the Journal Nusantara Public Health. JNPH is devoted to the dissemination of groundbreaking research on the theories, practices, and education of adult nursing and midwifery. Research on other subject areas or issues that contribute to adult nursing and midwifery are published at the discretion of the Editorial Board. The goal of JNPH is to contribute health maintenance, health promotion, disease prevention, and recovery from diseases in adults by publishing research. JNPH is published four times per year in February, May, August, and November. </p>Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Abdi Nusantaraen-USJournal Nusantara Public HealthPEMBERDAYAAN KADER POSYANDU DALAM PENDAMPINGAN KELUARGA BERESIKO STUNTING DI WILAYAH DI POSYANDU ASOKA I DUSUN TEGALASEM JUNI TAHUN 2026
https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/100
<p><span class="s1"><strong>Pendahuluan: </strong></span>Secara global, berdasarkan data UNICEF dan WHO angka prevalensi stunting Indonesia menempati urutan</p> <p>tertinggi ke-27 dari 154 negara yang memiliki data stunting. Angka stunting di Indonesia pada tahun 2024 tercatat sebesar 21,5 persen, hanya turun 0,1 persen dari tahun sebelumnya yang sebesar 21,6 persen. Kurangnya asupan gizi pada ibu sejak sebelum hamil,selama kehamilan, dan pada 1.000 hari pertama kehidupan anak dapat menghambat pertumbuhan <span class="s1"><strong>Metode: </strong></span>Pendekatan partisipatif, artinya mitra binaan akan secara aktif dilibatkan dalam setiap tahapan dan kegiatan pembinaan yang dilakukan melalui pendidikan kesehatan tentang stunting, edukasi perilaku hidup bersih dan sehat, pemberian MPASI kaya protein, dilanjutkan dengan pemberian makanan tambahan pada balita yang mengalami stunting. <span class="s1"><strong>Hasil: </strong></span>Dari 70 balita yang datang hanya sebagian (50.0%) ibu yang mengetahui tentang stunting dan pencegahannya. Setelah diberikan penyuluhan dan media edukasi berupa leaflet pengetahuan ibu balita tentang stunting dan pencegahannya meningkat. <span class="s1"><strong>Kesimpulan:</strong>. </span>Keluarga Balita Stunting mendapatkan edukasi tentang intervensi spesifik dengan pemeberian makanan tambahan, pemantauan tumbuh kembang, dukungan pemberian MPASI dan keluarga sudah mengerti juga mau melaksanakan anjuran yang diberikan.</p>Abela MayunitaMelisa Putri RahhmadhenaBunga Romadhona HaqueLili AnggraiiniDyah Mayasari FatwaWiwin WidyastutiSukmawati
Copyright (c)
2026-04-062026-04-063115PENURUNAN KADAR BILIRUBIN BAYI YANG DIBERI PEMIJATAN PADA BAYI ASI DAN TANPA ASI DI WILAYAH BANTEN TAHUN 2024
https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/103
<p style="font-weight: 400;">Hiperbilirubinemia tidak langsung merupakan salah satu kondisi yang paling mempengaruhi kesehatan bayi baru lahir di seluruh dunia dan terjadi pada 60% bayi baru lahir cukup bulan dan 80% bayi baru lahir prematur. Pijat bayi dapat menjadi metode yang efektif penanganan bayi ikterik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penurunan kadar bilirubin pada bayi yang diberi pemijatan dengan ASI dan tanpa ASI. Rancangan yang digunakan adalah <em>pre-test and post-test with control group </em>(<em>quasy experiment with control</em>)<em>. </em>Populasi dalam penelitian ini adalah bayi ikterik yang dirawat di rumah sakit di wilayah Banten pada bulan Juni tahun 2024 sebanyak 50 bayi dengan jumlah sampel 44 bayi. Teknik pengambilan sampel dengan pendekatan <em>purposive sampling. </em>Sebagian besar responden pada kelompok intervensi adalah bayi ikterik dengan jenis kelamin perempuan (54,5%) dan pada kelompok kontrol sebagian besar responden adalah bayi laki-laki (59,1%). Pada kelompok intervensi sebelum intervensi rata-rata kadar bilirubin bayi adalah 16,4 mg/dL dan rata-rata setelah intervensi yaitu 11,9 mg/dL. Pada kelompok kontrol sebelum intervensi rata-rata kadar bilirubin bayi adalah 17,7 mg/dL dan rata-rata setelah intervensi yaitu 10,6 mg/dL. Pada kelompok intervensi sebelum intervensi sebagian besar kadar bilirubin responden dalam katagori patologis (59,1%) dan setelah intervensi ada dalam katagori fisiologis (81,8%). Sedangkan pada kelompok kontrol sebelum intervensi sebagian besar ada dalam katagori patologis yaitu 81,8% setelah intervensi sebagian besar dalam katagori fisiologis yaitu 68.2%. Pada kelompok intervensi rata-rata kadar bilirubin bayi setelah intervensi adalah 4,5 mg/dL dan pada kelompok kontrol rata-rata kadar bilirubin setelah intervensi yaitu 3,9 mg/dL.Terdapat perbedaan signifikan penurunan kadar bilirubin bayi ikterik setelah dipijat dan diberi ASI pada kelompok intervensi (p-Value 0,008). Terdapat perbedaan signifikan penurunan kadar bilirubin pada bayi ikterik yang dipijat tapi tidak diberi ASI pada kelompok kontrol (p-Value 0,000). Tidak ada perbedaan signifikan kadar bilirubin bayi ikterik pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol setelah intervensi (p-Value 0,055). Pijat bayi dan pemberian ASI dapat mengurangi kadar bilirubin pada hiperbilirubinemia neonatal dan dapat direkomendasikan untuk diberikan dalam perawatan dengan hati-hati. Pijat bayi mungkin efektif untuk pencegahan penyakit kuning patologis pada bayi baru lahir yang sehat.</p>Dyah Mayasari FatwaWiwin WidyastutiAbela MayunitaMelisa Putri RahmadhenaBunga Romadhona HaqueLili Anggraini
Copyright (c)
2026-04-232026-04-23311825OPTIMALISASI KESEHATAN IBU HAMIL DENGAN PENINGKATAN PENGETAHUAN TENTANG MENGATASI ANEMIA DALAM KEHAMILAN DAN PEMBERIAN TABLET PENAMBAH DARAH DI POSYANDU SEROJA II DESA SUMURKONDANG KEC. KLARI JANUARI 2026
https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/101
<p style="font-weight: 400;"><strong>Pendahuluan: </strong>Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu target global Sustainable Development Goals (SDGs) dalam menurunkan angka kematian ibu (AKI) menjadi 70 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2030, (WHO. 2020). Menurut data dari Riskesdas pada tahun 2020, prevalensi kejadian anemia pada ibu hamil di Indonesia yaitu sebesar 48,9% yang terdiri dari ibu hamil usia 15-24 sebesar 84,6%, ibu hamil usia 23-34 sebesar 33,7%, ibu hamil usia 35-44 sebesar 33,6% dan terakhir yaitu pada 45-54 sebesar 24%. Adapun angka kejadian anemia pada ibu hamil di kabupaten Karawang adalah sebesar 38% (Dinkes Kabupaten Karawang, 2024). Berdasarkan data kependudukan tahun 2024, Data Desa Sumurkondang mempunyai penduduk sebanyak 6172 jiwa, Jumlah KK : 1877 KK. Studi pendahuluan diPosyandu Seroja II terdapat 44 orang ibu hamil dengan 40 orang mengalami anemia dan 3 orang tidak mengalami anemia.<strong>Metode: </strong>Kegiatan yang dilakukan berupa penyuluhan dalam bentuk penyampaian materi dan pemberian tablet penambaha darah <strong>Hasil: </strong>Berdasarkan kegiatan terdapat hasil yang signifikan pada pengetahuan ibu hamil sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan. <strong>Kesimpulan:</strong> Terdapat peningkatan pengetahuan sasaran tentang mengatasi anemia dalam kehamilan oleh ibu hamil di posyandu durian 5.</p>Bunga Romadhon HaqueLili AnggrainiDyah MayasariWiwin WidyastutiAbella MayunitaMelisa Putri Rahmadhena
Copyright (c)
2026-04-232026-04-2331612Optimalisasi Status Gizi Ibu Hamil Melalui Konseling Interpersonal Mitigasi Anemia dan Stunting di Kabupaten Bekasi Tahun 2026
https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/104
<p style="font-weight: 400;">Permasalahan anemia pada ibu hamil di Bekasi masih menjadi tantangan kesehatan yang signifikan, dengan angka kejadian mencapai 18,85% berdasarkan pemantauan tahun 2024-2025. Laporan pengabdian masyarakat ini merinci intervensi edukasi gizi yang dilakukan di Praktik Mandiri Bidan (PMB) wilayah Kabupaten Bekasi untuk meningkatkan literasi nutrisi dan kepatuhan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD). Metode yang digunakan meliputi konseling interpersonal, penggunaan media audiovisual (video), dan pendampingan melalui grup WhatsApp "Bumil Pedia".<strong>Metode </strong>Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dengan fokus pada ibu hamil di wilayah Kabupaten Bekasi. Tahap awal meliputi pendataan karakteristik peserta, termasuk usia, paritas (jumlah kehamilan), dan status gizi melalui pengukuran LILA. Berdasarkan profil peserta, mayoritas berada pada usia reproduksi sehat (20–30 tahun) dan sedang dalam kehamilan Trimester II. <strong>Hasil </strong>evaluasi menunjukkan peningkatan skor pengetahuan peserta yang sangat signifikan (p<0,05), dari kategori "Cukup" (rata-rata 65,69) menjadi "Baik" (rata-rata 93,08). Selain itu, intervensi ini berhasil mengidentifikasi dan mengedukasi ibu hamil mengenai mitos makanan lokal yang menghambat asupan protein hewani.<strong>Kesimpulan </strong>program ini menekankan bahwa pendekatan konseling interpersonal yang disesuaikan dengan kondisi individual efektif dalam mengubah perilaku kesehatan maternal dan mendukung target nasional zero stunting.</p>Wiwin WidyastutiAbela MayunitaMelisa Putri RamadhenaBunga Romadhona HaqueLili AnggrainiDyah Mayasari Fatwa
Copyright (c)
2026-04-232026-04-23312632EDUKASI ANEMIA PADA REMAJA DALAM UPAYA PENCEGAHAN STUNTING DI SMAN 100 JAKARTA TIMUR
https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/102
<p style="font-weight: 400;">darah yaitu hemoglobin dalam darah jumlahnya kurang dari kadar normal. Remaja putri memiliki risiko sepuluh kali lebih besar untuk menderita anemia dibandingkan dengan remaja putra. Hal ini dikarenakan remaja putri mengalami menstruasi setiap bulannya dan sedang dalam masa pertumbuhan sehingga membutuhkan asupan zat besi yang lebih banyak. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untukmeningkatkan pengetahuan remaja tentang Anemia dalam upaya pencegahan Stunting di SMAN 100 Jakarta Timur. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu dimulai dengan tahap persiapan, pembagian tugas untuk tim pengabmas, pemberian edukasi, tahap pelaksanaan dilakukan dengan pemberian edukasi menggunakan dengan metode ceramah dan dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab serta, tahap evaluasi dilakukan dengan menggunakan ceklist pre-test dan post test terhadap peningkatan pengetahuan terkait anemia dalam upaya pencegahan stunting. Hasil pre-test pengetahuan 27% dan post-test 67%. Kesimpulan adanya peningkatan pengetahuan remaja terhadap pencegahan stunting. Diharapkan adanya Kerjasama lebih lanjut antara sekolah dan puskesmas setempat dalam hal pemeriksaan hemoglobin berkala dan pemberian tablet tambah darah sebagai tindakan pencegahan anemia dalam upaya pencegahan stunting.</p>Lili AnggrainiDyah Mayasari FatwaWiwin WidyastutiAbela MayunitaMelisa Putri RahmadhenaBunga Romadhona Haque
Copyright (c)
2026-04-232026-04-23311218