https://jnph.org/index.php/JAN/issue/feedJournal Nusantara Public Health2026-06-19T05:28:46+00:00Open Journal Systems<p>Journal Nusantara Public Health (JNPH) is the official peer-reviewed research journal of the Journal Nusantara Public Health. JNPH is devoted to the dissemination of groundbreaking research on the theories, practices, and education of adult nursing and midwifery. Research on other subject areas or issues that contribute to adult nursing and midwifery are published at the discretion of the Editorial Board. The goal of JNPH is to contribute health maintenance, health promotion, disease prevention, and recovery from diseases in adults by publishing research. JNPH is published four times per year in February, May, August, and November. </p>https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/112OPTIMALISASI KESEHATAN IBU HAMIL DENGAN PENINGKATAN PENGETAHUAN TENTANG MENGATASI ANEMIA DALAM KEHAMILAN DAN PEMBERIAN TABLET PENAMBAH DARAH DI POSYANDU SEROJA II DESA SUMURKONDANG KEC. KLARI JANUARI 20262026-06-19T02:37:43+00:00Bunga Romadhona Haquebungaromadhona@gmail.comLili Anggrainililianggraini@gmail.comDyah Mayasari Fatwadyahmayasari@gmail.comWiwin Widyastutiwiwinwidyastuti@gmail.comAbela Mayunitaabelamayunita@gmail.comMelisa Putri Rahmadhenamelisaputri@gmail.com<p style="font-weight: 400;"><strong>Pendahuluan: </strong>Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu target global Sustainable Development Goals (SDGs) dalam menurunkan angka kematian ibu (AKI) menjadi 70 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2030, (WHO. 2020). Menurut data dari Riskesdas pada tahun 2020, prevalensi kejadian anemia pada ibu hamil di Indonesia yaitu sebesar 48,9% yang terdiri dari ibu hamil usia 15-24 sebesar 84,6%, ibu hamil usia 23-34 sebesar 33,7%, ibu hamil usia 35-44 sebesar 33,6% dan terakhir yaitu pada 45-54 sebesar 24%. Adapun angka kejadian anemia pada ibu hamil di kabupaten Karawang adalah sebesar 38% (Dinkes Kabupaten Karawang, 2024). Berdasarkan data kependudukan tahun 2024, Data Desa Sumurkondang mempunyai penduduk sebanyak 6172 jiwa, Jumlah KK : 1877 KK. Studi pendahuluan diPosyandu Seroja II terdapat 44 orang ibu hamil dengan 40 orang mengalami anemia dan 3 orang tidak mengalami anemia. <strong>Metode: </strong>Kegiatan yang dilakukan berupa penyuluhan dalam bentuk penyampaian materi dan pemberian tablet penambaha darah <strong>Hasil: </strong>Berdasarkan kegiatan terdapat hasil yang signifikan pada pengetahuan ibu hamil sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan.</p>2026-03-05T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Healthhttps://jnph.org/index.php/JAN/article/view/104Optimalisasi Status Gizi Ibu Hamil Melalui Konseling Interpersonal Mitigasi Anemia dan Stunting di Kabupaten Bekasi Tahun 20262026-03-03T03:11:43+00:00Wiwin Widyastutiwiwinwidyastuti@gmail.comAbela Mayunitamayunitaabela@gmail.comMelisa Putri Ramadhenamelisaputri@gmail.comBunga Romadhona Haquebungaromadhona@gmail.comLili Anggrainililianggraini@gmail.comDyah Mayasari Fatwadyahmayasari@gmail.com<p style="font-weight: 400;">Permasalahan anemia pada ibu hamil di Bekasi masih menjadi tantangan kesehatan yang signifikan, dengan angka kejadian mencapai 18,85% berdasarkan pemantauan tahun 2024-2025. Laporan pengabdian masyarakat ini merinci intervensi edukasi gizi yang dilakukan di Praktik Mandiri Bidan (PMB) wilayah Kabupaten Bekasi untuk meningkatkan literasi nutrisi dan kepatuhan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD). Metode yang digunakan meliputi konseling interpersonal, penggunaan media audiovisual (video), dan pendampingan melalui grup WhatsApp "Bumil Pedia".<strong>Metode </strong>Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dengan fokus pada ibu hamil di wilayah Kabupaten Bekasi. Tahap awal meliputi pendataan karakteristik peserta, termasuk usia, paritas (jumlah kehamilan), dan status gizi melalui pengukuran LILA. Berdasarkan profil peserta, mayoritas berada pada usia reproduksi sehat (20–30 tahun) dan sedang dalam kehamilan Trimester II. <strong>Hasil </strong>evaluasi menunjukkan peningkatan skor pengetahuan peserta yang sangat signifikan (p<0,05), dari kategori "Cukup" (rata-rata 65,69) menjadi "Baik" (rata-rata 93,08). Selain itu, intervensi ini berhasil mengidentifikasi dan mengedukasi ibu hamil mengenai mitos makanan lokal yang menghambat asupan protein hewani.<strong>Kesimpulan </strong>program ini menekankan bahwa pendekatan konseling interpersonal yang disesuaikan dengan kondisi individual efektif dalam mengubah perilaku kesehatan maternal dan mendukung target nasional zero stunting.</p>2026-04-23T00:00:00+00:00Copyright (c) https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/102EDUKASI ANEMIA PADA REMAJA DALAM UPAYA PENCEGAHAN STUNTING DI SMAN 100 JAKARTA TIMUR2026-03-03T02:49:09+00:00Lili Anggrainililianggraini@gmail.comDyah Mayasari Fatwadyahmayasari@gmail.comWiwin Widyastutiwiwinwidyastuti@gmail.comAbela Mayunitamayunitaabela@yahoo.co.idMelisa Putri Rahmadhenamelisaputrirrahmadhena@gmail.comBunga Romadhona Haquebungaromadona@gmail.com<p style="font-weight: 400;">darah yaitu hemoglobin dalam darah jumlahnya kurang dari kadar normal. Remaja putri memiliki risiko sepuluh kali lebih besar untuk menderita anemia dibandingkan dengan remaja putra. Hal ini dikarenakan remaja putri mengalami menstruasi setiap bulannya dan sedang dalam masa pertumbuhan sehingga membutuhkan asupan zat besi yang lebih banyak. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untukmeningkatkan pengetahuan remaja tentang Anemia dalam upaya pencegahan Stunting di SMAN 100 Jakarta Timur. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu dimulai dengan tahap persiapan, pembagian tugas untuk tim pengabmas, pemberian edukasi, tahap pelaksanaan dilakukan dengan pemberian edukasi menggunakan dengan metode ceramah dan dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab serta, tahap evaluasi dilakukan dengan menggunakan ceklist pre-test dan post test terhadap peningkatan pengetahuan terkait anemia dalam upaya pencegahan stunting. Hasil pre-test pengetahuan 27% dan post-test 67%. Kesimpulan adanya peningkatan pengetahuan remaja terhadap pencegahan stunting. Diharapkan adanya Kerjasama lebih lanjut antara sekolah dan puskesmas setempat dalam hal pemeriksaan hemoglobin berkala dan pemberian tablet tambah darah sebagai tindakan pencegahan anemia dalam upaya pencegahan stunting.</p>2026-04-23T00:00:00+00:00Copyright (c) https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/115Optimalisasi Status Gizi Ibu Hamil Melalui Konseling Interpersonal Mitigasi Anemia dan Stunting di Kabupaten Bekasi Tahun 20262026-06-19T04:13:02+00:00Wiwin Widyastutiwiwinwidyastuti@gmail.comAbela Mayunitaabelamayunita@gmail.comMelisa Putri Rahmadhenamelisaputri@gmail.comBunga Romadhona Haquebungaromadhona@gmail.comLili Anggrainililianggraini@gmail.comDyah Mayasari Fatwadyahmayasari@gmail.com<p style="font-weight: 400;">Permasalahan anemia pada ibu hamil di Bekasi masih menjadi tantangan kesehatan yang signifikan, dengan angka kejadian mencapai 18,85% berdasarkan pemantauan tahun 2024-2025. Laporan pengabdian masyarakat ini merinci intervensi edukasi gizi yang dilakukan di Praktik Mandiri Bidan (PMB) wilayah Kabupaten Bekasi untuk meningkatkan literasi nutrisi dan kepatuhan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD). Metode yang digunakan meliputi konseling interpersonal, penggunaan media audiovisual (video), dan pendampingan melalui grup WhatsApp "Bumil Pedia".</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Metode</strong></p> <p style="font-weight: 400;">Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dengan fokus pada ibu hamil di wilayah Kabupaten Bekasi. Tahap awal meliputi pendataan karakteristik peserta, termasuk usia, paritas (jumlah kehamilan), dan status gizi melalui pengukuran LILA. Berdasarkan profil peserta, mayoritas berada pada usia reproduksi sehat (20–30 tahun) dan sedang dalam kehamilan Trimester II. </p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Hasil</strong></p> <p style="font-weight: 400;">evaluasi menunjukkan peningkatan skor pengetahuan peserta yang sangat signifikan (p<0,05), dari kategori "Cukup" (rata-rata 65,69) menjadi "Baik" (rata-rata 93,08). Selain itu, intervensi ini berhasil mengidentifikasi dan mengedukasi ibu hamil mengenai mitos makanan lokal yang menghambat asupan protein hewani.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Kesimpulan</strong></p> <p style="font-weight: 400;">program ini menekankan bahwa pendekatan konseling interpersonal yang disesuaikan dengan kondisi individual efektif dalam mengubah perilaku kesehatan maternal dan mendukung target nasional zero stunting.</p>2026-03-05T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Healthhttps://jnph.org/index.php/JAN/article/view/100PEMBERDAYAAN KADER POSYANDU DALAM PENDAMPINGAN KELUARGA BERESIKO STUNTING DI WILAYAH DI POSYANDU ASOKA I DUSUN TEGALASEM JUNI TAHUN 20262026-02-26T03:28:46+00:00Abela Mayunitamayunita.abela@yahoo.co.idMelisa Putri Rahhmadhenamelisaputri@gmail.comBunga Romadhona Haquebungaromadhona@gmail.comLili Anggraiinililianggraini@gmail.comDyah Mayasari Fatwadyahmayasari@gmail.comWiwin Widyastutiwiwinwidyastuti@gmail.comSukmawatiwatisukma231191@gmail.com<p><span class="s1"><strong>Pendahuluan: </strong></span>Secara global, berdasarkan data UNICEF dan WHO angka prevalensi stunting Indonesia menempati urutan</p> <p>tertinggi ke-27 dari 154 negara yang memiliki data stunting. Angka stunting di Indonesia pada tahun 2024 tercatat sebesar 21,5 persen, hanya turun 0,1 persen dari tahun sebelumnya yang sebesar 21,6 persen. Kurangnya asupan gizi pada ibu sejak sebelum hamil,selama kehamilan, dan pada 1.000 hari pertama kehidupan anak dapat menghambat pertumbuhan <span class="s1"><strong>Metode: </strong></span>Pendekatan partisipatif, artinya mitra binaan akan secara aktif dilibatkan dalam setiap tahapan dan kegiatan pembinaan yang dilakukan melalui pendidikan kesehatan tentang stunting, edukasi perilaku hidup bersih dan sehat, pemberian MPASI kaya protein, dilanjutkan dengan pemberian makanan tambahan pada balita yang mengalami stunting. <span class="s1"><strong>Hasil: </strong></span>Dari 70 balita yang datang hanya sebagian (50.0%) ibu yang mengetahui tentang stunting dan pencegahannya. Setelah diberikan penyuluhan dan media edukasi berupa leaflet pengetahuan ibu balita tentang stunting dan pencegahannya meningkat. <span class="s1"><strong>Kesimpulan:</strong>. </span>Keluarga Balita Stunting mendapatkan edukasi tentang intervensi spesifik dengan pemeberian makanan tambahan, pemantauan tumbuh kembang, dukungan pemberian MPASI dan keluarga sudah mengerti juga mau melaksanakan anjuran yang diberikan.</p>2026-04-06T00:00:00+00:00Copyright (c) https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/113EDUKASI ANEMIA PADA REMAJA DALAM UPAYA PENCEGAHAN STUNTING DI SMAN 100 JAKARTA TIMUR2026-06-19T03:01:50+00:00Lili Anggrainililianggraini@gmail.comDyah Mayasari Fatwadyahmayasari@gmail.comWiwin Widyastutiwiwinwidyastuti@gmail.comSukmawatiwatisukma23119@gmail.comLili Farlikhatunlilifarlikhatun@gmail.comBunga Romadhona Haquebungaromadhona@gmail.comMelisa Putri Rahmadhenamelisaputri@gmail.comAbela Mayunitaabelamayunita@gmail.com<p style="font-weight: 400;">Anemia merupakan suatu keadaan dimana komponen di dalam darah yaitu hemoglobin dalam darah jumlahnya kurang dari kadar normal. Remaja putri memiliki risiko sepuluh kali lebih besar untuk menderita anemia dibandingkan dengan remaja putra. Hal ini dikarenakan remaja putri mengalami menstruasi setiap bulannya dan sedang dalam masa pertumbuhan sehingga membutuhkan asupan zat besi yang lebih banyak. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untukmeningkatkan pengetahuan remaja tentang Anemia dalam upaya pencegahan Stunting di SMAN 100 Jakarta Timur. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu dimulai dengan tahap persiapan, pembagian tugas untuk tim pengabmas, pemberian edukasi, tahap pelaksanaan dilakukan dengan pemberian edukasi menggunakan dengan metode ceramah dan dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab serta, tahap evaluasi dilakukan dengan menggunakan ceklist pre-test dan post test terhadap peningkatan pengetahuan terkait anemia dalam upaya pencegahan stunting. Hasil pre-test pengetahuan 27% dan post-test 67%. Kesimpulan adanya peningkatan pengetahuan remaja terhadap pencegahan stunting. Diharapkan adanya Kerjasama lebih lanjut antara sekolah dan puskesmas setempat dalam hal pemeriksaan hemoglobin berkala dan pemberian tablet tambah darah sebagai tindakan pencegahan anemia dalam upaya pencegahan stunting.</p>2026-03-05T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Healthhttps://jnph.org/index.php/JAN/article/view/111PEMBERDAYAAN KADER POSYANDU DALAM PENDAMPINGAN KELUARGA BERESIKO STUNTING DI WILAYAH DI POSYANDU ASOKA I DUSUN TEGALASEM JUNI TAHUN 20262026-06-19T02:09:19+00:00Abela Mayunitaabelamayunita@gmail.comMelisa Putri Rahmadhenamelisaputri@gmail.comBunga Romadhonabungaromadhona@gmail.comLili Anggrainililianggraini@gmail.comDyah Mayasari Fatwadyahmayasari@gmail.comSukmawatiwatisukma231191@gmail.com<p class="p1"><span class="s1"><strong>Pendahuluan: </strong></span>Secara global, berdasarkan data UNICEF dan WHO angka prevalensi stunting Indonesia menempati urutan</p> <p class="p1">tertinggi ke-27 dari 154 negara yang memiliki data stunting. Angka stunting di Indonesia pada tahun 2024 tercatat sebesar 21,5 persen, hanya turun 0,1 persen dari tahun sebelumnya yang sebesar 21,6 persen. Kurangnya asupan gizi pada ibu sejak sebelum hamil, selama kehamilan, dan pada 1.000 hari pertama kehidupan anak dapat menghambat pertumbuhan <span class="s1"><strong>Metode: </strong></span>Pendekatan partisipatif, artinya mitra binaan akan secara aktif dilibatkan dalam setiap tahapan dan kegiatan pembinaan yang dilakukan melalui pendidikan kesehatan tentang stunting, edukasi perilaku hidup bersih dan sehat, pemberian MPASI kaya protein,</p> <p class="p1">dilanjutkan dengan pemberian makanan tambahan pada balita yang mengalami stunting. <span class="s1"><strong>Hasil: </strong></span>Dari 70 balita yang datang hanya sebagian (50.0%) ibu yang mengetahui tentang stunting dan pencegahannya. Setelah diberikan penyuluhan dan media edukasi berupa leaflet pengetahuan ibu balita tentang stunting dan pencegahannya meningkat. <span class="s1"><strong>Kesimpulan:</strong>. </span>Keluarga Balita Stunting mendapatkan edukasi tentang intervensi spesifik dengan pemeberian makanan tambahan, pemantauan tumbuh kembang, dukungan pemberian MPASI dan keluarga sudah mengerti juga mau melaksanakan anjuran yang diberikan.</p>2026-03-05T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Healthhttps://jnph.org/index.php/JAN/article/view/103PENURUNAN KADAR BILIRUBIN BAYI YANG DIBERI PEMIJATAN PADA BAYI ASI DAN TANPA ASI DI WILAYAH BANTEN TAHUN 2024 2026-03-03T03:03:58+00:00Dyah Mayasari Fatwadyahmayasari@gmail.comWiwin Widyastutiwiwinwidyastuti@gmail.comAbela Mayunitamayunitaabela@yahoo.co.idMelisa Putri Rahmadhenamlisaputri@gmail.comBunga Romadhona Haquebungaroamdhona@gmail.comLili Anggrainililianggraini@gmail.com<p style="font-weight: 400;">Hiperbilirubinemia tidak langsung merupakan salah satu kondisi yang paling mempengaruhi kesehatan bayi baru lahir di seluruh dunia dan terjadi pada 60% bayi baru lahir cukup bulan dan 80% bayi baru lahir prematur. Pijat bayi dapat menjadi metode yang efektif penanganan bayi ikterik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penurunan kadar bilirubin pada bayi yang diberi pemijatan dengan ASI dan tanpa ASI. Rancangan yang digunakan adalah <em>pre-test and post-test with control group </em>(<em>quasy experiment with control</em>)<em>. </em>Populasi dalam penelitian ini adalah bayi ikterik yang dirawat di rumah sakit di wilayah Banten pada bulan Juni tahun 2024 sebanyak 50 bayi dengan jumlah sampel 44 bayi. Teknik pengambilan sampel dengan pendekatan <em>purposive sampling. </em>Sebagian besar responden pada kelompok intervensi adalah bayi ikterik dengan jenis kelamin perempuan (54,5%) dan pada kelompok kontrol sebagian besar responden adalah bayi laki-laki (59,1%). Pada kelompok intervensi sebelum intervensi rata-rata kadar bilirubin bayi adalah 16,4 mg/dL dan rata-rata setelah intervensi yaitu 11,9 mg/dL. Pada kelompok kontrol sebelum intervensi rata-rata kadar bilirubin bayi adalah 17,7 mg/dL dan rata-rata setelah intervensi yaitu 10,6 mg/dL. Pada kelompok intervensi sebelum intervensi sebagian besar kadar bilirubin responden dalam katagori patologis (59,1%) dan setelah intervensi ada dalam katagori fisiologis (81,8%). Sedangkan pada kelompok kontrol sebelum intervensi sebagian besar ada dalam katagori patologis yaitu 81,8% setelah intervensi sebagian besar dalam katagori fisiologis yaitu 68.2%. Pada kelompok intervensi rata-rata kadar bilirubin bayi setelah intervensi adalah 4,5 mg/dL dan pada kelompok kontrol rata-rata kadar bilirubin setelah intervensi yaitu 3,9 mg/dL.Terdapat perbedaan signifikan penurunan kadar bilirubin bayi ikterik setelah dipijat dan diberi ASI pada kelompok intervensi (p-Value 0,008). Terdapat perbedaan signifikan penurunan kadar bilirubin pada bayi ikterik yang dipijat tapi tidak diberi ASI pada kelompok kontrol (p-Value 0,000). Tidak ada perbedaan signifikan kadar bilirubin bayi ikterik pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol setelah intervensi (p-Value 0,055). Pijat bayi dan pemberian ASI dapat mengurangi kadar bilirubin pada hiperbilirubinemia neonatal dan dapat direkomendasikan untuk diberikan dalam perawatan dengan hati-hati. Pijat bayi mungkin efektif untuk pencegahan penyakit kuning patologis pada bayi baru lahir yang sehat.</p>2026-04-23T00:00:00+00:00Copyright (c) https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/116PELAYANAN KEBIDANAN KELUARGA DAN PENCEGAHAN STUNTING DI POSYANDU MELATI 5 DESEMBER 20252026-06-19T05:28:46+00:00Melisa Putri Rahmadhenamelisaputri@gmail.comBunga Romadhona Haquebungaromadhona@gmail.comLili Anggrainililianggraini@gmail.comWiwin Widyastutiwiwinwidyastuti@gmail.comDyah Mayasari Fatwadyahmayasari@gmail.comAbela Mayunitaabelamayunita@gmail.com<p class="p1"><strong>Pendahuluan: </strong>Asuhan kebidanan pemberdayaan pada keluarga</p> <p class="p1">merupakan asuhan kebidanan komunitas yang dilakukan oleh</p> <p class="p1">bidan untuk pemecahan masalah kesehatan. <em>Stunting </em>pada anak</p> <p class="p1">merupakan masalah yang cukup serius karena berkaitan dengan</p> <p class="p1">risiko terjadinya kesakitan di masa yang akan datang serta</p> <p class="p1">sulitnya untuk mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang</p> <p class="p1">optimal. Berdasarkan data survey penduduk kelurahan jaka</p> <p class="p1">mulya kecamatan bekasi selatan berjumlah 35.283 jiwa dimana</p> <p class="p1">kelompok usia 0-4 th berjumlah 2.343.000 jiwa didapatkan %</p> <p class="p1">jiwa, sementara berdasarkan data penimbangan balita di 12</p> <p class="p1">posyandu terdapat 43 balita stunting dimana untuk wilayah</p> <p class="p1">posyandu durian V Terdapat 2 balita yang mengalami stunting</p> <p class="p1">dari jumlah sasaran 94 balita.</p> <p class="p1"><strong>Metode: </strong>Kegiatan yang dilakukan berupa penyuluhan dalam</p> <p class="p1">bentuk penyampaian materi.</p> <p class="p1"><strong>Hasil: </strong>Berdasarkan kegiatan terdapat hasil yang signifikan pada</p> <p class="p1">pengetahuan masyarakat sebelum dan sesudah diberikan</p> <p class="p1">pendidikan kesehatan.</p> <p class="p1"><strong>Kesimpulan:</strong> Terdapat peningkatan pengetahuan sasaran tentang</p> <p class="p1">pencegahan balita stunting pada masyarakat khususnya ibu hamil</p> <p class="p1">dan ibu yang memiliki balita di posyandu durian 5</p>2026-03-05T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Healthhttps://jnph.org/index.php/JAN/article/view/101OPTIMALISASI KESEHATAN IBU HAMIL DENGAN PENINGKATAN PENGETAHUAN TENTANG MENGATASI ANEMIA DALAM KEHAMILAN DAN PEMBERIAN TABLET PENAMBAH DARAH DI POSYANDU SEROJA II DESA SUMURKONDANG KEC. KLARI JANUARI 20262026-03-03T02:34:41+00:00Bunga Romadhon Haquebungaromadhona@gmail.comLili Anggrainililianggraini@gmail.comDyah Mayasaridyahmayasari@gmail.comWiwin Widyastutiwiwinwidyastuti@gmail.comAbella Mayunitamayunitaabela@yahoo.co.idMelisa Putri Rahmadhenamelisapputri@gmail.com<p style="font-weight: 400;"><strong>Pendahuluan: </strong>Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu target global Sustainable Development Goals (SDGs) dalam menurunkan angka kematian ibu (AKI) menjadi 70 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2030, (WHO. 2020). Menurut data dari Riskesdas pada tahun 2020, prevalensi kejadian anemia pada ibu hamil di Indonesia yaitu sebesar 48,9% yang terdiri dari ibu hamil usia 15-24 sebesar 84,6%, ibu hamil usia 23-34 sebesar 33,7%, ibu hamil usia 35-44 sebesar 33,6% dan terakhir yaitu pada 45-54 sebesar 24%. Adapun angka kejadian anemia pada ibu hamil di kabupaten Karawang adalah sebesar 38% (Dinkes Kabupaten Karawang, 2024). Berdasarkan data kependudukan tahun 2024, Data Desa Sumurkondang mempunyai penduduk sebanyak 6172 jiwa, Jumlah KK : 1877 KK. Studi pendahuluan diPosyandu Seroja II terdapat 44 orang ibu hamil dengan 40 orang mengalami anemia dan 3 orang tidak mengalami anemia.<strong>Metode: </strong>Kegiatan yang dilakukan berupa penyuluhan dalam bentuk penyampaian materi dan pemberian tablet penambaha darah <strong>Hasil: </strong>Berdasarkan kegiatan terdapat hasil yang signifikan pada pengetahuan ibu hamil sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan. <strong>Kesimpulan:</strong> Terdapat peningkatan pengetahuan sasaran tentang mengatasi anemia dalam kehamilan oleh ibu hamil di posyandu durian 5.</p>2026-04-23T00:00:00+00:00Copyright (c) https://jnph.org/index.php/JAN/article/view/114EDUKASI DAN PEMBERDAYAAN KELUARGA TERHADAP GIZI IBU HAMIL, BALITA DAN ANAK, SERTA PENYULUHAN PENGGUNAAN BUKU KIA DI DESA SEGARAJAYA KECAMATAN TARUMAJAYA KAB. BEKASI2026-06-19T04:04:41+00:00Dyah Mayasari Fatwadyahmayasarifatwa@gmail.comWiwin Widyastutiwiwinwidyastuti@gmail.comAbela Mayunitaabelamayunita@gmail.comMelisa Putri Rahmadhenamelisaputri@gmail.comBunga Romadhona Haquebungaromadhona@gmail.comLili Anggrainililianggraini@gmail.comSukmawatiwatisukma231191@gmail.com<p>Kekurangan Energi Kronis (KEK) adalah kondisi gizi kurang yang dialami ibu hamil akibat kurangnya asupan energi dan protein dalam waktu lama, yang ditandai dengan ukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) < 23,5 cm. KEK pada ibu hamil dapat meningkatkan risiko komplikasi kehamilan, kelahiran bayi berat lahir rendah (BBLR), serta stunting pada anak. Sementara itu, balita dengan status gizi kurang atau buruk berisiko mengalami keterlambatan tumbuh kembang, penurunan imunitas tubuh, serta peningkatan risiko kematian akibat penyakit infeksi. (Kementerian Kesehatan RI, 2023). Berdasarkan data nasional, prevalensi ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronis (KEK) di Indonesia mencapai 17,3% menurut Riskesdas 2018. Selain itu, hampir setengah dari ibu hamil (48,9%) mengalami anemia. Di Kabupaten Bekasi, prevalensi stunting mengalami peningkatan dari 17,8% pada tahun 2022 menjadi 23,2% pada tahun 2023. Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi mencatat sekitar 2.900 balita terindikasi mengalami stunting hingga pertengahan tahun 2024. Meskipun data spesifik mengenai jumlah ibu hamil dengan KEK di Kabupaten Bekasi tidak tersedia dalam sumber yang ada, peningkatan prevalensi stunting pada balita dapat mengindikasikan adanya masalah gizi pada ibu hamil di wilayah tersebut. Hal ini menunjukkan perlunya intervensi gizi yang lebih intensif bagi ibu hamil dan balita untuk menurunkan angka stunting dan meningkatkan status gizi masyarakat. Secara nasional, pemerintah Indonesia telah meluncurkan program pemberian makanan gratis senilai $28 miliar yang ditujukan untuk memberi makan 90 juta anak dan ibu hamil guna memerangi malnutrisi. Program ini bertujuan untuk mengurangi angka stunting yang saat ini mempengaruhi 21,5% anak di bawah lima tahun. Upaya-upaya ini diharapkan dapat menurunkan prevalensi KEK pada ibu hamil dan masalah gizi pada balita, khususnya di Kabupaten Bekasi. Berdasarkan survei kesehatan di Posyandu Sakura, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, ditemukan beberapa kasus ibu hamil dengan KEK dan balita dengan status gizi kurang. Temuan ini menunjukkan pentingnya penguatan pelayanan kesehatan dan gizi di tingkat komunitas untuk mencegah dampak jangka panjang dari permasalahan tersebut.</p>2026-03-05T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Journal Nusantara Public Health